Weseben, Salah Satu Sentra Produksi Pisang di Malaka

Desa Weseben di Kecamatan Wewiku – Kabupaten Malaka – Provinsi NTT merupakan salah satu sentra produksi pisang di Kabupaten Malaka – Provinsi NTT .

Desa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 265 KK itu hampir seluruhnya bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Dan semua keluarga di desa Weseben memiliki kebun.

Potensi lahan kering untuk penanaman jagung sebesar
64 ha. Masih ada lagi lahan kering untuk penanaman pisang sebanyak 30 hektar menyebar diseluruh dusun.

Hampir semua lahan kebun pisang milik rakyat itu dikerjakan berkat program pacul tanah gratis melalui program pemerintah usungan Bupati SBS.

Rakyat disini senang sekali karena bisa mengoptimalkan pemanfaatan lahan tidur untuk penanaman pisang melalui program RPM yang diluncurkan pemerintah.

Kepala Desa Weseben, Silverius Bria mengatakan hal itu kepada wartawan di Weseben- Kecamatan Wewiku – Kabupaten Malaka, Rabu (15/7-2020)

Dikatakannya, sejak Pemkab Malaka meluncurkan pacul tanah gratis untuk rakyat melalui program RPM tahun 2016, setiap tahunnya rakyat di Weseben memanfaatkan peluang itu untuk mengolah lahannya.

” Sebagai Kepala Desa saya berupaya bersama aparat desa mengkoordinir rakyat agar bisa mengakses program itu supaya semua tanah rakyat diolah”

” Sebagai kepala desa kebijakan saya semua tanah milik rakyat yang belum diolah harus diolah dan dipacul dan ditanami hasil”

” Hanya dalam beberapa tahun seluruh tanah milik rakyat selesai diolah dan ditanami hasil seperti jagung, pisang dan ubikayu sehingga tidak ada lahan tidur di desa kami”

” Rakyat kami sangat terbantu karena dalam beberapa tahun program pacul tanah rakyat itu diluncurkan semua warga memiliki kebun. Dulu, warga hanya memiliki kebun beberapa are tetapi saat ini kebunnya sudah besar untuk ditanami aneka tanaman”

” Khususnya untuk kebun pisang kita optimalkan pemanfaatan lahan tidur yang selama ini tidak diolah untuk bisa ditanami pisang”

“Instruksinya jelas. Tidak boleh ada,lahan tidur di desa dan harus diolah. Yaa… kita bersyukur karena dulunya hanya lahan tidur sekarang sudah berubah menjadi kebun pisang yang sangat membantu rakyat disini”

” Hingga saat ini masih ada belasan hektar lahan sawah yang belum diolah karena kurangnya curah hujan. Khususnya untuk lahan basah kita sangat tergantung curah hujan yang ada”

” Penghasilan utama rakyat disini dari tanaman jagung, ubi kayu dan pisang. Untuk panenan jagung setiap tahun melimpah dan rakyat kami tidak kekurangan pangan. Jagung lama panenan tahun lalu masih ada dan saat ini sudah panen jagung MT1. Biasanya jagung stok lama dijual agar tidak terjadi penumpukan jagung disetiap keluarga”

” Biasanya panenan jagung disimpan untuk cadangan makanan dan kalau panenannya melimpah bisa dijual sebagian untuk kebutuhan kekuarga”

” Di setiap kebun biasanya rakyat disini tanam jagung sekaligus tanam ubi kayu secara baris. Setelah jagungnya dipanen kebunnya langsung dibersihkan untuk memberi ruang supaya ubi kayu berproduksi dengan baik”

” Jenis ubi kayu yang sering disebut warga disini dengan nama ubi salah sangka sangat digandrungi pembeli dari Atambua dan Kupang, Menurut informasi jenis ubi kayu ini menjadi bahan baku pembuatan kripik ubi ”

” Harga jual di kebun dengan harga yang standart. Biasa saat panen diisi pada karung beras kapasitas 40 kg itu dibeli dengan harga per karung Rp 40 -Rp50 ribu. Itu keuntungan bersih petani sudah dipotong ongkos panen”

” Saat belum panen saja para pemborong ubi dari luar Malaka sudah datang tawar ubi di kebun rakyat dengan harga saat ini Rp 10 ribu/pohon. Ini harga di kebun dan belum panen. Rakyat yang miliki kebun 1.ha saja saat panen bisa kantongi uang puluhan juta rupiah hanya dari usaha tanam ubi kayu”

” Lain lagi dengan kebun pisang. Penghasilan dari pisang ini sebetulnya bonus untuk rakyat karena sejak dulu tanah-tanah itu tidak diolah karena segala keterbatasan rakyat untuk pengolahan lahan”

” Saat ini keadaan sudah berubah karena melalui program pacul tanah gratis yang diluncurkan pemerintah melalui program RPM maka seluruh lahan tidur milik rakyat diolah dan ditanami pisang”

” Saat ini lahan tidur tidak ada. Yang ada justru lahan pisang.
Rakyat juga senang karena setiap saat bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari kebun pisang miliknya”

” Setiap minggu ada dua truk dari Kupang yang datang beli pisang secara rutin untuk dijual ke Kupang. Rakyat tidak lagi membawa pisangnya di pasar tetapi langsung beli di kebun”

” Sementara itu setiap dua hari sekali ada dua mobil pick up yang datang membeli pisang milik rakyat untuk memenuhi kebutuhan pasar di Atambua” (boni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *