Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Headline

Wartawan Di Sumba Polisikan Suplayer Bahan Bangunan Rumah Bantuan, Ini Alasannya

104
×

Wartawan Di Sumba Polisikan Suplayer Bahan Bangunan Rumah Bantuan, Ini Alasannya

Sebarkan artikel ini

Weetabula — Seorang wartawan media online Hits IDN yang bertugas di Sumba Barat Daya (SBD) mengadukan MM ke Mapolres SBD, Jumat (03/02/2023).

Diketahui MM adalah Suplayer yang bertindak atas nama CV Bunga Matahari Sumba, salah satu suplayer bantuan rumah layak huni (RLH) di Desa Ole Ate, Kecamatan Kodi, Kabupaten SBD.

Rovyn Tenge, wartawan hitsidn.com mengadukan MM ke Mapolres SBD atas dugaan perbuatan tidak menyenangkan dan pelecehan terhadap profesi jurnalistik yang dialmi Tenge.

“Saya datang untuk melaporkan secara resmi perihal perbuatan tidak menyenangkan dan pelecehan terhadap profesi saya sebagai wartawan oleh MM, suplayer CV Bunga Matahari Sumba,” ujar Tenge kepada wartawan, usai menyerahkan pengaduannya ke Mapolres SBD.

Perbuatan tidak menyenangkan dan pelecehan terhadap profesi jurnalistik yang dialami Rovyn Tenge terjadi, ketika dirinya melakukan konfirmasi pemberitaan terkait aduan warga penerima manfaat bantuan RLH Tahun 2022 di Desa Ole Ate.

Ketika dikonfirmasi, MM malah bereaksi dengan nada kasar. MM marah-marah karena mengaku merasa terusik gegara dikonfirmasi pada hari Sabtu, yang merupakan hari libur.

Ketika ditelpon wartawan Rovyn, dari handphone MM hanya terdengar bunyi musik tanpa ada jawaban. Karena itu Rovyn pun memutuskan sambungan telepon.

Selang beberapa saat, MM pun menelpon balik dan langsung menanyakan maksud Rovyn menghubungi dirinya.

“Kenapa kau telepon saya malam-malam, tadi pas saya sibuk kerja. Ada apa?” cecar MM dalam rekaman percakapan di handphone milik wartawan Rovyn.

Rovyn pun memperkenalkan diri lalu menjelaskan maksudnya menelepon, dan mengemukakan aduan warga yang juga faktanya sudah diinvestigasi langsung di lapangan.

Namun saat ia bertanya terkait kebenaran keluhan masyarakat tersebut, MM langsung menyambar dengan nada emosional.

“Kalau bicara lewat telepon saya kurang puas, kalau bisa kita bertemu,” pinta MM.

Atas jawaban ini, Rovyn langsung membalasnya jika besok pun tidak masalah yang kemudian ditanggapi dengan sewot oleh MM.

“You bukan orang Kristen ya, kau punya nama siapa tadi? Kan you sudah tahu bahwa hari ketujuh itu hari Tuhan Allahmu. Makanya saya bilang hari Senin bisa ketemu kau tidak,” kata MM dengan intonasi suara yang terdengar meninggi.

Rovyn kemudian meminta agar MM bicara dengan nada biasa saja, tidak meledak-ledak. Karena tujuannya hanya ingin mendapat klarifikasi berhubung beritanya sudah deadline dan mau dipublikasi.

Bukannya mendapat klarifikasi, ia malah dicekoki dengan sejumlah kata-kata dengan diksi yang sangat tidak ramah.

MM mengatakan, kendati cuma seorang suplayer, tapi sudah menguras darah dan keringat untuk Desa Ole Ate.

“Lalu kau ini siapa?”, tanya MM dalam percakapan itu.

“Walaupun kau seorang wartawan, kepala dinas, bupati, gubernur, presiden, kau tidak pernah berkorban untuk masyarakat. Kau ketemu saya hari Senin di Desa Ole Ate,” tantang MM dengan nada marah.

Bahkan sejumlah kata-kata tidak etis dilontarkan oleh MM yang dalam rekaman itu terdengar sudah tidak mampu lagi mengontrol emosinya.

Meski sudah berulangkali diingatkan oleh Rovyn agar tidak menanggapi emosi, MM semakin berapi-api amarahnya hingga mengeluarkan kata-kata yang tidak beretika.

Dalam percakapan berdurasi 24 menit 12 detik itu, MM bahkan menuding Rovyn sengaja menelponnya karena mungkin menganggap dirinya adalah kupu-kupu malam.

Sebuah tuduhan menyakitkan dilontarkan MM terhadap Rovyn sehingga membulatkan tekad sang kuli tinta ini untuk melaporkan supplier yang diduga bermasalah dalam penanganan bantuan RLH di Desa Ole Ate tersebut.

“Kau menilai yang tidak-tidak, kau hanya mau duduk mau main tanda tangan, mau dapat uang,” tuding MM dalam nada emosi.

Dituding seperti itu, Rovyn membalas bahwa ia tidak suka dengan tuduhan yang sudah mencoreng nama baiknya dan akan melaporkan hal ini ke polisi.

“Silahkan, mau di Polda, bupati, gubernur, presiden, saya siap,” tantang MM dengan tensi yang terdengar makin tinggi.

Diketahui, bantuan RLH tersebut bersumber dari APBD Pemprov NTT, yang dialokasikan kepada 34 kepala keluarga tidak mampu atau rentan miskin di Desa Ole Ate.

Setiap keluarga penerima manfaat (KPM) mendapat alokasi anggaran sebesar 25 Juta Rupiah, dengan rincian 22,5 Juta Rupiah untuk pengadaan bahan bangunan dan 2,5 Juta Rupiah untuk biaya tukang (HOK).

KPM mengeluh karena distribusi beberapa jenis bahan bangunan oleh suplayer diduga tidak sesuai ketentuan dalam Daftar Rencana Pembelanjaan Bahan Bangunan (DRPB2).

Terkait ini, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Kabupaten SBD, Petrus Japa Ole pun sudah memberi peringatan agar supplier bersangkutan segera  menuntaskan pekerjaan sesuai ketentuan.(tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *