Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Headline

TUHAN.. Kami Kenyang Dengan JANJI ( oleh : Andryanto Bria – Wartawan Asal Malaka)

146
×

TUHAN.. Kami Kenyang Dengan JANJI ( oleh : Andryanto Bria – Wartawan Asal Malaka)

Sebarkan artikel ini

MENJADI pejabat publik ialah kehormatan besar yang mesti disyukuri dan dijaga mandat publik selama masa bakti.

Janji kampanye dimana pun dan kapan pun selalu manis kemasannya yang dilakukan oleh setiap kontestan saat genderang tabuh lonceng demokrasi PILEG dan PILKADA dimulai.

Entah disadari atau tidak sadar, Ada begitu banyak janji manis itu terucap saat meraih simpati masyarakat dengan harapan untuk ‘mendulang’ suara dukungan setiap kontestan jelang pertarungan politik pileg dan pilkada itu berlangsung.
Akan tetapi, masyarakat hanya menjadi alat guna meraih legitimasi serta mendapat pengakuan saat calon penguasa itu sedang mati-matian meraih suara hingga menerima kemenangan itu.

Penulis secara pribadi melihat, pada akhirnya masyarakat hanya sebagai penonton ketika mereka harus menggenapi kata pepatah orang bijak, “habis manis sepah dibuang”.

Janji kontestan calon penguasa ketika hendak meraih simpati, manis bak membius masyarakat yang terasa dihipnotis. Akan tetapi ketika mereka meraih apa yang mereka inginkan, masyarakat yang dulunya bekerja mati-matian untuknya, terkesan ditinggal begitu saja dengan harapan janji manis yang sempat terucap disaat kampanye mestinya digenapi.

“Merekapun kembali menjadi korban janji manis sang penguasa.
Ada begitu banyak ketika janji sang penguasa hanya sebatas retorika, begitu mudahnya mereka saat mencari dukungan mengumbar janji kosong yang melompong dengan penuh semangat meneriakan janji yang tak pernah terpenuhi.”

Carut-marutnya validasi tenaga kontrak berimbas honor tak terbayarkan, sebagai bukti penguasa itu tidak konsisten, kesannya para penguasa terlihat, ” melempar batu sembunyi tangan” dan ini salah satu bukti mereka tidak sungguh menepati janjinya dan mereka terkesan saling melempar kesalahan, menuding satu sama lain terindikasi “cuci tangan”.

Penguasa, sebagai pemimpin yang memiliki integritas, rasa malu itu harus menyertai setiap melangkah dalam membawa arah kebijakan akan dibawa kemana daerah ini jika tidak sesuai harapan masyarakat.

Ribuan rakyat saat ini sedang mengawasi langkah kebijakan Pemerintah dengan harapan daerah ini akan jauh lebih baik dari sebelumnya.

Saat ini kebijakan sang Penguasa itu, masyarakat sedang ‘menakar’ pola kepemimpinannya serta berharap adanya perubahan yang sejati demi kelangsungan nasib daerah ini. RAKYAT SAAT INI MERINDUKAN SERTA MENUNGGU PERUBAHAN ITU. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *