Tim Pakar RPM Jelaskan Tuntas Soal Isu Serangan Penyakit Tanaman Bawang Merah RPM

Malaka- Ketua Tim Pakar RPM, Dr. Herry Z. Kotta didampingi anggota Tim Pakar menjelaskan secara tuntas isu serangan penyakit tanaman bawang merah kepada wartawan di Betun,
6 Agustus 2019. Selanjutnya simak penjelasan dibawah ini.

Salah satu komoditas dalam program Revolusi Pertanian Malaka (RPM) adalah Bawang Merah, mengingat secara agroecological sangat sesuai serta memiliki nilai ekonomi tinggi karena Payback Periode/PBP (periode pengembalian modal) tergolong singkat. Namun, seperti halnya komoditas pertanian lainnya, salah satu tantangan adalah ancaman hama dan penyakit.

Ada dua penyakit endemic bawang merah yaitu Becak Ungu (Alternaria porri) dan Layu Fusarium (Fusarium oxysporium). Agen penyebab kedua penyakit tersebut adalah jamur. Intensitias ancamana di picu oleh meningkatnya kelembaban udara serta fluktuasinya. Kabar baiknya adalah kedua penyakit ini dapat dihindari atau ditekan ancaman melalui tindakan pencegahan.

Tahun ini, melalui program RPM dikembangkan tanaman bawang merah seluas 150 ha yang tersebar pada 19 desa (melibatkan 30 kelompok tani) di kecamatan Malaka Tengah, Malaka Barat, dan Weliman. Para petani telah diberikan bimbingan dan pendampingan teknis oleh staf Dinas Pertanian Kabupaten Malaka dan Tim Pakar RPM , termasuk pencegahan dan pengendalian kedua jenis penyakit di atas.

Penanaman telah berlangsung sejak pertengahan bulan Juli 2019. Bahkan lebih dari 20 petani di desa Oenmane dan Desa Motaain yang ditanaman secara mandiri (tidak lagi dibantu oleh pemerintah) oleh petani telah memanen dengan hasil yang cukup memuaskan.

Namun, beberapa hari belakangan ini, tersebar berita di media massa online tertentu bahwa tanaman bawang merah RPM terancam gagal panen karena terjadi serangan penyakit fusarium akibat kualitas benih yang kurang baik.

Menyikapi situasi tersebut, maka tim pakar RPM dan staf Dinas Pertanian Kabupaten Malaka telah melakukan monitoring dan evaluasi (monev) di semua lokasi penanaman bawang merah. Berdasarkan hasil monev tersebut, maka perlu diinformasikan kondisi yang sebenarnya sekaligus sebagai pencerahan kepada masyarakat sebagai berikut:

1. Sebagai penyakit endemic, maka serangan kedua jenis penyakit tersebut bisa saja terjadi apabila ada faktor lingkungan yang mendukung dan tatalaksana yang tidak sesuai prosedur standar budidaya bawang merah.

2. Bahwa telah terjadi serangan penyakit layu fusarium dengan presentasi serangan yang bervariasi antar petani berkisar 6 – 22%. Angka presentasi ini masih di bawah ambang kerugian ekonomi. Jika serangan penyakit di atas 50%, baru dikategorikan sebagai kerugian.

3. Bahwa kualitas benih berhubungan dengan daya kecambah dan tumbuh tanaman, dan tidak berhubungan serangan penyakit layu fusarian maupun Becak Ungu.

4. Penyebab utama munculnya serangan penyakit layu fusarian saat ini di Malaka adalah kelemababan udara yang tinggi dan sangat fluktuatif karena gangguan iklim karena curah hujan (di musim hujan kedua saat ini) yang tidak menentu.

5. Penyebab lain adalah kelembaban tanah rendah akibat kurangnya hujan atau kurang disiram yang menyebabkan efek sekunder dimana tanaman mudah terserang jamur ini.

6. Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut, maka langkah-langkah pencegahan dan pengendalian:

a. Segera mengikuti SOP pengendalian hama dan penyakit sesuai arahan teknis yang pernah disampaikan pada saat Bimtek,

b. Bagi yang belum menanam, maka harus dilakukan perendaman benih bawang merah dengan fungisida sistemik selama 2 jam sebelum ditanam. Untuk tanaman yang sudah ada, segera dilakukan penyemprotan dengan fungisida sistemik yang tersedia pada rentang waktu 7 – 10 hari.

c. Tanaman yang terserang, segera dicabut dan dieradikasi untuk memblok penularan penyakit ini.
d. Segera diairi (disiram) dan tidak boleh ditunda dalam rangka memicu pertumbuhan.

e. Pada kondisi kelembaban tanah yang baik, perlu diikuti dengan pemupukan.

f. Jika tersedia Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dapat digunakan juga Bersama penyemprotan fungisida dan dicampur kedua bahan ini. (boni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *