Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Headline

Sikap Komisi III DPRD NTT ke Bank NTT Ibarat Drama Cinta Remaja Labil

48
×

Sikap Komisi III DPRD NTT ke Bank NTT Ibarat Drama Cinta Remaja Labil

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Aliansi NTT Bergerak yang terdiri dari sejumlah organisasi pegiat anti korupsi, yakni BENTARA (Benteng Merdeka Nusantara, GRAK (Gerakan Republik Anti Korupsi), FORMADDA NTT (Forum Pemuda Penggerak Perdamaian dan keadilan NTT), JAPAK Indonesia (Jaringan Advokasi Pembela Aktivis Kriminalisasi Penguasa Indonesia), Perhimpunan Pengacara NTT Jakarta, AMANAT INDONESIA (Anak Muda Lamaholot Indonesia) menilai sikap Komisi III DPRD NTT dan Bank NTT akhir-akhir ini ibarat Drama Cinta Remaja Labil. Komisi III DPRD NTT memarahi Bank NTT karena dinilai bandel dan tidak menghadiri Rapat Banmus (Badan Musyawarah) DPRD NTT, tetapi kemudian malah menghadiri peresmian kantor Bank NTT Cabang Pembantu (Capem) Kantor Gubernur NTT dan memuji program Bank NTT.

Demikian dikatakan Koordinator Aliansi NTT Bergerak, Yohanes Hegon Kelen dalam rilis tertulis kepada tim media ini pada Selasa (19/07/2022), menyoroti sikap Komisi III DPRD NTT terhadap Bank NTT.

“Kali lalu Komisi III DPRD NTT marahi Bank NTT karena tidak hadiri rapat Banmus. Lucunya hari ini (18/07) Komisi III DPRD NTT melalui pak Yonas Salean hadiri acara bank NTT dan puji program terobosan Bank NTT. Hubungan keduanya (Komisi III DPRD NTT dan Bank NTT, red) belakangan ini ibarat drama cinta remaja labil. Marah tapi sebenarnya cinta. Tidak diperhatikan alias dicueki, ngambek dan marah. Diberi perhatian dikit, hilang marahnya dan senang hingga puji pasangannya di tetangga (media, red). Lucu dan geli lihatnya,” tulisnya.

Menurut Yohanes Hegon Kelen, kehadiran Ketua Komisi III DPRD NTT, Yonas Salean dalam peresmian kantor Bank NTT Cabang Pembantu (Capem) Kantor Gubernur NTT dan pujian atas program Bank NTT (Senin, 18 Juli 2022) menimbulkan tanda tanya publik. Karena hal itu menunjukkan inkonsistensi sikap tegas dan keseriusan Komisi III DPRD NTT mengawasi bank NTT di tengah berbagai kasus dugaan korupsi yang melilit Bank NTT saat ini.

“Kalau marahi Pimpinan Bank NTT dan jajarannya yang tidak hadiri rapat Banmus dan yang tidak anggap Komisi III DPRD NTT, ya seharusnya Ketua Komisi III DPRD NTT juga tidak perlu hadiri acara Bank NTT hingga puja-puji Bank NTT. Konsisten dong!Jangan Cinta tapi bilang benci. Apakah sesudah pujian pak Yonas, Komisi III DPRD NTT masih akan serius awasi kasus-kasus Bank NTT atau tidak? Publik pun ragu,” ujarnya sinis.

Lebih lanjut, Hegon Kelen berpandangan, bahwa drama Komisi III DPRD NTT dan bank NTT tersebut dapat menimbulkan keraguan dan menurunnya trust publik NTT akan keseriusan Komisi III DPRD mendorong penegakan hukum atas kasus-kasus dugaan korupsi di bank NTT.

Beberapa kasus tersebut antara lain: Kasus Kerugian Negara akibat pembelian MTN Rp 50 Miller dari PT. SNP, Kasus Kredit Fiktif Rp 100 Milyar PT. Budimas Pundinusa, Kredit Macet Bank NTT Cabang Surabaya Rp 126,5 Milyar, Kasus Kredit Fiktif Bank NTT Cabang Waingapu Rp 2,9 Milyar,dan sejumlah kasus lain di Bank NTT yang jadi perhatian Aparat Penegak Hukum hari ini.

“Jadi rakyat NTT tidak dapat berharap banyak pada komitmen DPRD NTT untuk bersama masyarakat NTT mengawal deretan kasus-kasus dugaan Korupsi di Bank NTT, yang saat ini sedang ditangani Aparat Penegak Hukum,” kritiknya.

Sikap Komisi III DPRD NTT, lanjut Koordinator Aliansi NTT Bergerak itu, mengendorkan semangat perjuangan pegiat anti korupsi dan insan pers yang bertaruh nyawa menyorot dugaan korupsi di bank NTT dan Badan Usaha Milik Daerah NTT lainnya.

Hal tersebut, lanjutnya, menggambarkan bahwa upaya pegiat anti korupsi dan pers dalam mengungkap dugaan korupsi dan termasuk praktek premanisme menghadapi tantangan serius. Karena bagian pilar yang seharusnya mengawal proses penegakan hukum terkait dugaan korupsi diduga telah menjadi satu bagian dari praktek kejahatan.

Koordinator Aliansi NTT Bergerak meminta Masyarakat NTT untuk terus mengawasi proses penyelesaian sejumlah kasus dugaan Korupsi dan Premanisme serta ‘sandiwara’ oknum Pejabat Publik yang sesungguhnya ingin ‘membungkam’ teriakan dan jeritan rakyat terhadap ketidakadilan dan kebenaran akibat korupsi dan premanisme di NTT.

“Sikap DPRD NTT melalui Komisi III telah menimbulkan tanda tanya besar. Sandiwara ini setidaknya telah ‘makan korban’ uang negara dan rakyat dan kemiskinan ekstrim rakyat belum terselesaikan,” ujarnya lagi.

Hegon Kelen mengajak masyarakat tetap berpikir positif akan penegakan keadilan dan kebenaran serta hukum terus berjalan di tengah ‘sandiwara’ politik yang cukup menarik kecurigaan publik tentang dugaan adanya ‘main mata’ dibalik proses penegakan hukum terhadap kasus-kasus tersebut. Semoga ini hanya dugaan yang tidak benar. Tetapi perlu diingat, bahwa negara dan rakyat tidak akan pernah kalah dengan korupsi dan premanisme,” tutupnya.

Ketua Komisi III DPRD NTT, Yonas Salean dikonfirmasi tim media ini via pesan WhatsApp/WA pada Pukul 18.30 Wita hingga berita ini diturunkan belum menjawab. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *