Saatnya Paradigma Pendidikan Olahraga di Sekolah Perlu Dievaluasi

Jakarta – Pertandingan Sepak bola yang digelar oleh Danone Nations Cup di Jakarta menyita perhatian para Kepala Sekolah yang diutus Pemerintah Kabupaten Malaka untuk menyaksikan iven sepak bola bergengsi itu.

Dari hasil pengamatan dan refleksi para kepala sekolah yang hadir di Jakarta sangat sepakat bahwa untuk mendulang prestasi siswa dibidang olahraga maka lembaga pendidikan dasar dan menengah bisa dijadikan sarana untuk melatih dan menempa para siswa untuk berprestasi pada beberapa cabang olahraga prestasi yang diajarkan.

Orientasi pendidikan olahraga harus diarahkan untuk menggali dan meningkatkan presta siswa. Model pendidikan yang sangat pas adalah memberikan teori dan praktek di lapangan agar dapat dipahami anak.

Untuk mendorong peningkatan prestasi siswa diharapkan setiap tahun ada iven yang digelar untuk mencari bibit sekaligus mengukur prestasi siswa.

Demikian intisari wawancara media ini bersama Kepala Sekolah SDK 1 Besikama, Yohanes Seran Bria, A.Ma di Jakarta, Minggu (28/ 7-2019)

Dikatakannya, setelah menyaksikan iven Danone Nation Cup di Jakarta ternyata masalah olahraga harus ditangani secara serius apapun cabang olahraga itu.

Dikatakannya, di kota besar seperti Pulau Jawa dan Bali persoalan olahraga prestasi ditangani sekolah khusus seperti sekolah sepak bola atau bidang olahraga lainnya.

“Kita di Malaka hal ini bisa dilakukan di sekolah-sekolah untuk penelusuran minat dan bakat olahraga anak usia dini diberbagai cabang olahraga prestasi”

“Kita harus jadikan sekolah sebagai laboratorium dan sarana untuk memantau dan mengembangkan prestasi anak dibidang olahraga prestasi untuk selanjutnya dibina agar mendulang prestasi sesuai bidang olahraga dan bakat yang dimiliki anak”

” Untuk itu perlu ada iven yang diadakan dinas PKPO agar memberikan motivasi bagi anak berlatih untuk menggapai prestasi pada moment seperti Perayaan Hardiknas, Perayaan HUT Kemerdekaan RI atau perayaan pesta gereja lainnya untuk pertandingan/perlombaan Sepak bola, Volly, Bulu tangkis, tenis meja, lari, lompat tinggi, lompat jauh, tolak peluru dan lainnya”

“Selama ini di sekolah anak diajar untuk olahraga agar sehat tetapi bukan untuk prestasi.
Fino Loes, Siswa kelas 6 SDK Besikama 1 yang terpilih memperkuat skuat pemain U 12 yang saat ini bertanding di Jakarta adalah siswa yang berbakat karena turunan orang tuanya”

“Guru olah raga jaman sekarang tidak sama dengan SGO karena lebih banyak teori di kelas tetapi harusnya output yang diharapkan adalah prestasi siswa sebagai indikator untuk mengukur. Harusnya teori itu langsung diberikan saat bermain di lapangan sehingga bisa nyambung”

“Harusnya pendidikan Olahraga di SD jangan terlalu banyak teori di kelas tetapi lebih banyak latihan sehingga anak miliki keterampilan/keahlian dalam salah satu cabang olahraga”

“Kita harus dorong latihan sepak bola sebagai salah satu kegiatan ekstra kulikuler untuk melatih keterampilan siswa dibidang itu”.

“Harapannya pemerintah bisa beri perhatian untuk fasilitas olahraga penunjang.
Perlu ada turnamen antar sekolah agar bisa mengetahui dan menyaring bakat siswa.
Guru harus bisa melihat bakat anak untuk dibimbing dan ditingkatkan”.

Terkait pengiriman Kepala Sekolah, guru olahraga dan orang tua siswa mengikuti pertandingan anak U 12 di Jakarta merupakan keputusan cerdas dan sangat bijaksana dari Bupati Malaka.

” Bupati SBS sangat luar biasa karena bisa mengirim kasek, guru olah raga dan orang tua menyaksikan iven bergengsi di Jakarta”

“Kita yang hadir bisa memberikan motivasi dan semangat kepada anak-anak untuk bertanding”

“Sebagai kepala sekolah dan guru olahraga kehadiran di Jakarta bisa menjadi motivasi untuk membangun olahraga di sekolah sebagai sarana penggalian bakat siswa agar bisa berprestasi dibidang olahraga yang digeluti” (boni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *