Rm Leo Nahas : Soal Investasi Garam , Harus Dilihat Secara Obyektif dan Jangan Ada Sandiwara

Malaka – Persoalan Investasi Garam Malaka khususnya di lokasi Weseben – Weoe harus dilihat secara obyektif sejauh hal itu untuk kepentingan rakyat dan umat. Sejauh kegiatan itu untuk mensejahterakan orang banyak maka patut didukung untuk bonum communae dan jangan ada sandiwara.

Permintaan itu disampaikan Pastor Paroki Kleseleon, Rm Leonardus Nahas, Pr bersama para pastor se dekenat Malaka saat meninjau lokasi tambak garam PT IDK di Weseben -Weoe – Kecamatan Wewiku belum lama ini.

Rm Leo menjelaskan setelah menginjak kaki di lokasi tambak garam PT IDK di Desa Weseben dan Weoe ternyata lokasi itu tidak asing lagi bagi dirinya.

” Lokasi ini saya datang pertama kali disini pada tahun 1999 ketika saya ditugaskan Uskup sebagai Pastor Paroki Weoe”.

“Pada tahun itu saya bersama sekelompok guru diantaranya Bapak Blasius Bere dan Bapak Lake,cs. datang ke tempat ini untuk mencari kepiting”

” Di tempat ini saya melihat masyarakat mengerjakan tambak yang berukuran kecil yang dikerjakan secara manual”.

“Sejak itu saya tidak ragu masuk ke lokasi ini karena tidak ada hutan bakau (mangrov)”

” Mengikuti pemberitaan media dan postingan di media sosial yang berdiskusi tentang pembabatan hutan mangrov di desa Weseben dan Weoe saya sempat kaget membaca berita-berita itu apakah memang demikian? ”

“Setelah datang ke tempat ini dan memperhatikan ladang garam yang dikerjakan PT IDK ternyata tempat ini tidak asing lagi bagi saya karena sering datang kesini saat menjadi Pastor Paroki Weoe”

“Saya hanya mengingat kembali pemberitaan tentang pembabatan mangrov seperti yang selama ini diributkan ternyata secara pribadi saya, harus katakan dengan jujur bahwa kita lagi bersandiwara”

“Secara pribadi saya harus katakan bahwa kita lagi bersandiwara . Oleh karena itu mari kita jangan bersandiwara terus karena kenyataannya tidak ada mangrov disini tetapi hanya terlihat pohon gewang (akar) , Pohon berduri (bakuro) dan pohon kom (Kabuka) ditempat ini saat saya masih bertugas di Paroki Weoe”

“Pertanyaan saya kenapa kita harus bersandiwara dengan hal-hal seperti itu? ”

“Saya minta kepada kita semuanya untuk berpikir jernih dan obyektif dalam mengungkapkan apa yang kita lihat dan dengar agar tidak menyesatkan banyak orang”

” Kita juga harus obyektif bahwa sejauh apa yang dilakukab saat ini untuk bonum communae dan kepentingan rakyat dan umat kenapa kita, harus bersandiwara?”

” Demi kesejahteraan masyarakat banyak maka seharusnya kita bersikap obyektif”.

“Setelah mendengar panjang lebar dari perusahaan, pemilik lahan, pekerja dan tokoh umat ternyata usaha yang dibangun saat ini merupakan usaha bersama dengan sistim bagi hasil sesuai kesepakatan yang dibuat bersama melalui perjanjian kerja sama”

“Saya juga senang mendengar bahwa rakyat kita tidak menjual tanah kepada perusahaan tetapi tetap menjadi milik rakyat dengan perjanjian kontrak kerja sama”

“Menurut saya pribadi apabila sistim kerja sama dibangun seperti itu maka rakyat tetap untung karena tanahnya tidak dijual dan bisa diwariskan kepada anak cucu”

“Saya tadi senang sekali mendengar penjelasan perusahaan bahwa mereka juga saat ini menanam mangrov untuk menghindari abrasi”

“Hal diatas patut diapresiasi karena perusahaan bukan hanya mencari keuntungan dari usaha ini tetapi Juga ikut melestarikan lingkungan dengan cara menanam mangrov serta bisa memberikan sumber penghidupan bagi masyarakat melalui usaha bersama yang dilakukan” (boni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *