Rakyat Desa Naas – Malaka Minta Pembuangan Air Kali Motamoruk Dialihkan ke Kali Motadelek Agar Tidak Merusak Sawah Warga

Malaka (Adv)- Warga desa Naas di Kecamatan Malaka Barat – Kabupaten Malaka – Provinsi NTT meminta pemerintah agar mengalihkan pembuangan air dari kali Motamoruk ke Kali Motadelek melalui Lakulo Kakeuktuik – Kecamatan Weliman agar tidak merusak areal persawahan masyarakat.

Pasalnya, sejak tahun 2007 saluran pembuangan itu dibangun tidak memberikan manfaat sedikitpun bagi petani sawah di Harewe Klot dan Harewe Luan . Sebaliknya, setiap tahun air kali Motamoruk saat banjir membawa material banjir yang sangat merugikan petani sawah karena ratusan hektar sawah yang sementara berproduksi ditutup banjir bahkan merusak lahan masyarakat.

Akibat pembuangan material kali Motamoruk itu 40 hektar sawah lebih tertimbun dan tidak diolah hingga saat ini. Petani kehilangan lahan sawah produktif yang tidak bisa diolah karena rentan banjir setiap tahun.

Pembuangan air kali Motamoruk ke lokasi sawah harus ditutup dan dialihkan pembuangannya ke Motadelek karena dalam kenyataannya air kali Motamoruk tidak dimanfaatkan untuk irigasi sawah karena air yang bersumber dari kali ini hanya mengalir dimusim hujan dan kering di waktu panas.

Demikian intisari pendapat yang dihimpun dari beberapa tokoh masyarakat Desa Naas – Kecamatan Malaka Barat yang juga menjadi korban keganasan banjir dari Kali Motamoruk setiap tahun.

Sekertaris Desa Naas, Kornelis Fahik kepada wartawan di Naas – Malaka Barat, Jumat (22/5-2020) mengatakan saluran pembuangan air yang dibangun pemerintah Kabupaten Belu tahun 2007 itu program sia-sia dan tidak bermanfaat bagi rakyat.

” Awal pembangunannya kami petani beberapa desa yang memiliki lahan di Harewe Klot dan Harewe Luan protes keras kepada pemda Belu waktu itu namun tidak digubris dan tetap dikerjakan. Anehnya mereka hanya buat saluran pembuangan air itu dengan alat berat tanpa pasangan sehingga setiap tahun saluran itu selalu ditimbuni sedimen dan material banjir. Aliran air tidak terarah sehingga mengalir bebas dan merusak sawah masyarakat. Buktinya, hingga saat ini sawah masyarakat seluas 40 ha lebih tidak bisa diolah karena dirusak material banjir setiap tahun”

” Saluran pembuangan air itupun hanya berfungsi untuk buang air saat banjir ke sawah masyarakat dan tidak berfungsi untuk pengairan sawah rakyat. Rakyat tidak pernah fungsikan air dalam saluran itu karena musim panas airnya kering dan musim hujan hanya bawa material banjir”

” Selama ini rakyat fungsikan air untuk airi sawah dari empang/ tahak Loofoun, empang lakulo, empang numea dan harewe klot yang bersumber dari sumber mata air Wematan. Itu sudah berjalan sejak dulu kala secara turun temurun hingga hari ini”

Kepala Dusun Beimauk B – Desa Naas, Klemens Seran mengatakan hal senada.

” Banjir yang berasal dari kali Motamoruk itu berawal dari pengerjaan saluran pembuangan air darurat dari Kali Motamoruk tahun 2007 menuju areal persawahan Harewe Klot dan Harewe Luan sehingga mengakibatkan banjir”.

” Tahun 2009/2010 saluran yang dibangun tertimbun banjir dan diperbaiki lagi pada tahun 2012 tetapi tertimbun lagi pada tahun 2014 hingga saat ini tanpa penanganan sehingga banjir yang datang dari Motamoruk langsung masuk merusak sawah petani”

” Tahun 2014 dan 2015 banjir Motamoruk terbesar merusak dan merendam ratusan ha lahan masyarakat di di lokasi Harewe Luan dan Harewe Klot sehingga menimbulkan kerugian besar bagi warga. Sejak saat itu saluran tertutup total hingga saat ini”

” Saluran yang dibuat juga sifatnya darurat karena tidak ada pasangan. Bentuk salurannya seperti helm. Diatas lebarnya 5 meter dan dasar saluran dibawah luasnya 3 meter.Kondisi saat ini saluran yang dibiat tertutup total material banjir tanpa penanganan”

Kasi Kesra Desa Naas, Albertus Seran menawarkan dua alternatif solusi mengatasi banjir Motamoruk.

“Pertama, Bila Saluran pembuangan Kali Motamoruk mau diperbaiki maka harus dikerjakan secara permanen agar air mengalir lancar dan tidak ada penimbunan material banjir didalam saluran pembuangan.
Selama ini saluran Pembuangan dikerjakan tidak tembus dan hanya sampai di Wetuin sehingga waktu musim hujan saluran Wetuin tidak bisa tampung air sehingga terjadi luapan banjir.
Supaya lancar, saluran Wetuin harus diperbaiki , diperlebar dan pembuangan terakhir harus dikerjakan sampai Saluran Induk Weliman sehingga material banjir tidak tertumpuk di Wetuin yang selama ini menjadi penyebab luapan banjir”

” Solusi kedua, sebaiknya saluran pembuangan kali Motamoruk ditutup dan dialihkan pembuanganya mulai dari Umalor Toos masuk Kakeuktuik baru dialirkan masuk ke kali Motadelek dan jaraknya dari umalor hanya kurang lebih 1 km .
Selama ini pembuangan air kali Motamoruk menuju Umalor Toos dan langsung ke sawah masyarakat di Harewe Luan dan Harewe Klot
sehingga harus diubah alur airnya menuju Motadelek supaya tidak merusak lahan masyarakat”

Menurut catatan wartawan media ini potensi luas lahan warga desa Naas dan Maktihan yang dialiri dari sumber mata air Weliman kurang lebih 1000 ha belum termasuk sawah milik warga desa Motaulun. (boni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *