Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Headline

Membangun Solidaritas Kelompok Warga Migran  Perantauan di Kalteng ( Catatan Perjalanan Boni Atolan, Wartawan Radarmalaka.com bagian ke 8 – habis)

51
×

Membangun Solidaritas Kelompok Warga Migran  Perantauan di Kalteng ( Catatan Perjalanan Boni Atolan, Wartawan Radarmalaka.com bagian ke 8 – habis)

Sebarkan artikel ini

Kotim – Kalteng, Hampir seminggu saya berkeliling di Kalteng, ketika berkunjung ke berbagai perusahaan yang mengelola usaha  kelapa sawit saya temukan kelompok-kelompok masyarakat  asal NTT  yang bekerja diberbagai perusahaan  dan tinggal secara bersama-sama di berbagai tempat penginapan  ( perumahan karyawan) yang menyebar  di wilayah perusahaan dimana mereka bekerja.

Dalam catatan saya, setiap perusahaan dipastikan ada orang NTT baik itu dari daratan Timor atau Flores serta daerah lainnya   yang bekerja dan tinggal di lokasi perumahan yang disiapkan setiap perusahaan bagi karyawannya.

Mereka tidak hanya hidup berkelompok karena pekerjaannya tetapi juga  berbagai urusan sosial kemasyarakatan mereka tetap menyatu, bahu membahu dan saling membantu satu sama lain layaknya seperti kita yang ada di NTT.

Saya  sangat terkejut ketika memasuki daerah perkebunan PT Karya Makmur Abadi ( KMA ) di Kota Waringin Timur ( Kotim) – Provinsi Kalteng karena seolah-saya saya memasuki perkampungan NTT.

Di Divisi 2 PT. KMA kurang lebih  100 unit rumah tinggal  yang dihuni karyawan perusahaan itu  80 persennya berasal dari NTT terbanyak dari Malaka dan Belu.

Begitupun di Divisi 1 PT KMA, banyak pekerja yang berada di lokasi penginapan karyawan.   Sebagian besar berasal dari Pulau Flores bercampur dengan karyawan dari Pulau Timor seperti TTU, TTS, Kupang.

Di Camp Penginapan karyawan Divisi 2 PT KMA setelah ditelusuri ternyata kedatangan mereka di Kalteng dari rumpun keluarga besar. Awal bekerja, mereka yang datang hanya suami, istri dan anak-anaknya. Dalam perkembangannya, setelah anak-anak tamat SMA dan tidak melanjutkan sekolah maka mereka bekerja di perusahaan dimana orang tuanya bekerja, selanjutnya berkeluarga dan punya anak sehingga mereka beranak pinak di Kalteng.

Bagi anda yang masih bujang dan ingin menikah di Kalimantan jangan kawatir karena para orang tua atau dituakan di lokasi penginapan  perusahaan akan mengurusnya, entah menikah dengan warga asli Kalimantan  atau antar sesama perantau yang bekerja di Kalimantan.

Peranan para orang tua dekat di lokasi penginapan perusahaan sangat besar karena mereka bisa  berkonsultasi dengan Pastor Paroki Setempat atau pendeta bagi yang beragama Kristen Protestan untuk urusan persiapan perkawinan gereja atau membaptis anak. Bahkan di perumahan karyawan ada juga pekerja sebagai guru agama  yang berperan mengurusi urusan-urusan rohani dari para pekerja.

Sabtu Minggu lalu, ketika saya tiba di lokasi perusahaan sedang dilangsungkan pernikahan warga NTT  yang lokasinya berdekatan dengan lokasi penginapan karyawan PT. KMA Divisi 2  dengan saksi pernikahannya  Bapak Octovianus Bele bersama Istri yang tinggalnya di perumahan divisi 2 PT KMA.

Pesta Pernikahan warga NTT  di Perantauan Kalteng tentu tetap bernuansa dan khas NTT yakni dansa sampai pagi. Salah satu keunikan yang saya lihat dan dengar dari masyarakat NTT di perantauan bahwa pesta yang digelar bebas miras dan alkohol.
Saat pesta digelar tidak ada orang tua atau anak muda yang minum sopi.  Uniknya, miras diizinkan untuk diminum saat pesta resmi selesai dan hanya dikhususkan bagi tuan rumah dan anak-anak muda yang membongkar tenda serta membereskan peralatan pesta. Dengan demikian pesta nikah atau pesta lainnya bagi warga NTT di Kalteng berjalan aman dan nyaman.

Oktovianus Bele, anak Mantu Malaka  asal Kabupaten Belu  yang sudah 9 tahun bekerja di PT KMA  Kalteng  kepada media ini mengatakan sebagai orang yang dituakan di perantauan tetap berkewajiban mengurusi anak-anak NTT di Perantauan terkait peristiwa kemasyarakatan”, ujarnya.

” Urusan perkawinan, permandian anak dan kematian  merupakan peristiwa kemanusiaan yang harus diperhatikan setiap  orang dimanapun dirinya berada termasuk diperantauan”, ujarnya.

Jemi Bere,  Mane Maksain asal Biuduk Fehan -,Desa Bakiruk – Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Malaka  dan  Alfonsius Bere alias Alo yang  kurang lebih
10  tahun bekerja di Kalteng  kepada media ini mengatakan sering diminta pekerja asal NTT untuk  jadi saksi perkawinan dan Permandian anak.

Keduanya mengatakan senang membantu anak-anak NTT untuk menikah resmi di gereja agar ada kepastian hak waris bagi istri/suami  dan anak. ” Urusan gereja kita bereskan, urusan adat saat pulang kampung baru diurus agar mereka kerja tenang dan tidak ada masalah”, jelas kedua orang tua diatas yang kerap dipanggil Kepala Suku masyarakat NTT di KMA – Kalteng. ( boni/habis)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *