Kesulitan AIr Irigasi Warga Desa Haerain – Malaka Enggan Tanam Padi MT 2

Persoalan ketersediaan air irigasi menjadi masalah tersendiri bagi warga desa Haerain di Kecamatan Malaka Barat -Kabupaten Malaka – Provinsi NTT.

Dari Potensi lahan seluas 100 hektar Petani di desa Haerain hanya bisa menanam padi 30 hektar di MT 1 dan pada MT 2 petani hanya menanam pada lahan seluas tidak lebih dari dari 2 ha di ujung saluran DI Malaka sayap kanan oleh tiga kepala Keluarga.

Masyarakat tidak tanam padi MT2 tahun ini karena selama 3 tahun terakhir air irigasi datangnya terlambat. Kalai toh ada, pasokan air tidak mencukupi kebutuhan petani setempat sehingga berpotensi gagal tumbuh dan gagal panen selalu menjadi langganan petani.

Kondisi saat ini petani hanya ikuti irama saja sambil melihat perkembangan kedepan agar petani tidak banyak merugi bila melakukan penanaman padi MT2.

Kasi Kesra Desa Haerain, Frans Magu mengatakan hal itu dalam forum rapat koordinasi lintas sektor untuk penanganan air di Daerah Irigasi Malaka Sayap Kanan yang digelar di desa Rabasa – Kecamatan Malaka Barat-.Kabupaten Malaka, Rabu (8/7-2020).

Dikatakannya, sebagai desa yang paling hilir dari pelayanan DI Malaka sayap kanan prinsipnya hanya menunggu air yang datang dari hulu.

” Selama 3 tahun terakhir petani disini hanya tanam padi pada MT 1 karena selain mendapatkan pasokan air irigasi petani juga terbantu dengan curah hujan yang ada sehingga peluang petani untuk panen masih ada”

” Kondisi MT2 tahun ini banyak petani memilih diam dan tidak tanam padi. Hanya ada 3 KK yang menanam padi dengan luasan tidak lebih dari 2 ha diujung saluran DI Malaka dekat jembatan”

” Kondisi di Haerain warga hanya pasrah dengan kondisi yang ada.
Jadi untuk sementara dalam MT2 tahun ini kita biarkan saja rakyat mau tanam apa saja silahkan”

” Daerah persawahan di desa Haerain berada didepan Pustu Haerain seluas 40 ha tetapi setiap tahun hanya bisa diolah 30 ha karena kurangnya persediaan air yang memadai. Lokasi sawah ini tepat didepan BLO pintu 7 pintu paling terakhir DI Malaka sayap kanan”

” Di depan BLO Pintu 6 tepatnya berbatasan dengan desa Rabasa ada lahan seluas 60 ha namun tidak bisa diolah karena kesulitan air irigasi.”

” Direncanakan dalam tahun 2021 sudah ada kelompok yang disiapkan untuk tanam padi ladang seluas 10 ha sehingga tidak membutuhkan banyak air”

” Sementara itu masih sisa 50 ha lahan ditempat yang sama belum diolah dan membutuhkan pemagaran”

” Terhadap rencana penanaman Palawija pada lahan persawahan milik warga pada MT2 dan MT3, khususnya untuk desa Rabasa Haerain masih meminta waktu untuk sosialisasikan kepada masyarakat sehingga bisa mendapatkan dukungan”

” Kami harus musyawarah dan sosialisasikan kepada warga agar dalam MT 1 tahun depan bisa melakukan penanaman padi secara serentak dan bersama-sama supaya panennya bisa sama-sama”

” Kalau para petani sepakat maka lahan sawah yang ada bisa dikeringkan untuk penanaman palawija pada MT2 dan MT3 tahun depan”

” Khususnya untuk Haerain kita minta supaya saluran air di BLO Pintu 7 tidak usah ditutup karena harus disosialisasikan dulu dan bisa diterapkan tahun depan bila ada kesepatan bersama untuk merealisasikannya”

” Kita usulkan kepada manager DI Malaka sayap kanan agar dalam MT 1 tahun depan supaya air dari Bendung Benenai dilepas lebih awal pada Bulan Januari – Februari agar petani lebih awal mempersiapkan lahannya. Kalau dilepas pada bulan Maret- April petani ragu tanam karena takut terserang hama dan penyakit”

Terhadap Usulan itu Juru Pengairan DI Malaka Sayap Kanan,  Dominikus Suri Bria mengatakan untuk mengalirkan air dari Bendung Benenai ke DI Malaka sayap kiri dan kanan ada aturan yang harus dipatuhi bersama.

” Biasanya pada bulan Jan -Feb air di bendung masih keruh karena hujan pertama sehingga membawa material banjir yang berpotensi merusak bendung Benenai dan Sifon”

” Setiap tahun Air Irigasi di Bendung Benenai dibuka paling cepat setelah hujan normal dan tidak bawa lagi sedimen”.

” Biasanya saat buka pertama kita buka dengan debit air yang besar supaya petani menggunakan air itu untuk rincah sawah” (boni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *