Heri Sunarto, Petani Milenial Asal Bondosari – Sukoharjo Mampu Merubah Lahan Kritis Menjadi Lahan Produktif Dengan Pola Pertanian Terintegrasi

Sukoharjo-Jawa Tengah – Heri Sunarto, salah seorang pemuda milenial kelahiran Sukoharjo-Jawa Tengah terpanggil untuk kembali membangun kampung halamannya dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan kritis yang terbentang luas mengelelilingi Kota kelahirannya di Sukoharjo-Jawa Tengah.

Berbekalkan modal yang dikumpulkan saat bekerja sebagai pegawai BUMN dirinya memutuskan pulang ke kampung halamannya untuk merintis usahanya yang baru dibidang pertanian terintegrasi.

Dengan bermodalkan semangat juang dan keinginan berusaha di kampung halaman sendiri, Heri membeli lahan kritis seluas dua hektar untuk memulai usahanya yang baru.

Heri sudah merintis dan memulai usahanya sejak tahun 2017 dan dalam waktu dua tahun terakhir dirinya bisa melakukan panen hasil padi sebanyak 9 kali dengan total penghasilan setiap tahun rata-rata Rp 500 Juta untuk panenan dua hektar termasuk panenan ikan dan ternak yang dikelolanya.

Demikian penjelasan Heri Sunarto kepada wartawan disela kegiatan kaji banding Komisi 2 DPRD Kabupaten Malaka di Bondosari- Kutoharjo-Jawa Tengah, Rabu (6/11-2019).

Heri yang jebolan Kampus ITB Jurusan mesin itu mengaku agak miris melihat potensi hamparan luas lahan di Kabupaten Sukoharjo yang terbentang luas dan tidak dioptimalkan pemanfaatannya.

Sebagai warga kelahiran Sukoharjo dirinya merasa prihatin melihat masih ada tanah kritis yang letaknya hanya sekitar 3 km dari pusat kota.

” Cara berpikir kita sebagai generasi muda merasa prihatin melihat potensi luas lahan di kampung sendiri terlihat kritis tidak terurus
sehingga kita harus berbuat sesuatu di kampung halaman”.

” Dalam pikiran saya berkeinginan agar tanah kritis di pusat kota terutama di tanah kelahiran sendiri
tidak boleh diterlantarkan dan harus dioptimalkan pemanfaatannya karena semua infrastruktur penunjang seperti jalan sudah dibangun pemerintah”.

” Dalam pemikiran saya apa yang dilakukan ini mungkin bagian dari solusi. Sejauh dibawah tanah itu masih ada sumber air maka kita bisa rubah lahan itu menjadi lahan produktif”.

” Cara berpikir saya, sebagai generasi muda yang tinggal di Pulau Jawa merasa sangat prihatin dengan lahan kritis yang begitu banyak sementara infrastruktur penunjang seperti jalan raya sudah dibangun pemerintah dan sayang sekali bila lahan yang ada tidak dioptimalkan pemanfaatannya” .

“Lahan yang infrastrukturnya sudah jadi itu ada jutaan hektar . Tinggal kita bergerak sedikit sudah dapatkan hasil. Asumsinya, kalau generasi milenial bergerak bersama maka banyak keuntungan yang didapatkan. Berapa jumlah lapangan pekerjaan yang dibuat, berapa rupiah yang kita hemat untuk impor pangan.
Inilah beberapa pemikiran yang mendorong saya tergerak untuk memulai usaha baru dibidang pertanian terintegrasi”

Terkait penghasilan dari usaha pertanian terintegrasi Heri mengatakan sepanjang dirinya masih mengefisiensikan pekerjaan dan aktifitas di lahan itu dalam satu titik dengan lainnya saling menunjang maka kesempatan mendapatkan hasil dari usaha pertanian, peternakan dan perikananan bisa terbuka lebar”.

“Kita kelola lahan seluas dua hektar dengan konsep pertanian terintegrasi. Dari pengelolaan lahan yang ada dalam satu tahun kita bisa empat kali panen padi, empat kali panen lele, lima kali panen ayam dan setiap tahun mendapatkan anakan sapi yang beranak. Setiap hektarnya setiap tahun bisa dapatkan hasil bersih dari usaha itu sebesar Rp 250 Juta/hektar”

” Dalam pantauan saya generasi muda kita selama ini kurang produktif karena mereka lebih memilih bekerja diluar bidang pertanian seperti buruh pabrik dan merantau menjadi TKI atau pekerjaan lainnya”

“Kita punya obsesi untuk membangun pertanian dan menyulap lahan kritis menjadi lahan produktif melalui pertanian terintegrasi”.

” Setelah usaha ini dirintis ternyata generasi milenial dengan konsep yang ada sangat tertarik dan datang berduskusi terkait pertanian terintegrasi”.

“Pertanian terintegrasi tidak membutuhkan kerja fisik yang tinggi karena dalam konsep kerja ini sangat menekankan pada efisiensi pekerjaan tinggi”.

” Dalam bekerja karyawan kita
tidak harus berlumpur-lumpur, tidak harus repot dengan rumput, air tidak perlu mikir dan penyemprotan tidak perlu repot-repot termasuk volume pekerjaan banyak diminimalisir. Ini menjadi daya tarik generasi milenial masuk dalam dunia pertanian”.

“Daya tarik lainnya yakni ada pertanian integrasi tadi. Kalau tidak dapat panenan padi masih ada harapan pendapatan lain dari ikan, sayur-sayuran dan hasil peternakan seperti ayam, telur ayam dan peternakan sapi”

Kontur tanah bukan ada masalah . Kontur tanah kita dulu lebih ekstrim dari tanaman jati yang tidak terurus tetapi lahan yang ada diolah dan diubah . Kalau konturnya terasering bisa menjadi bagian dari keuntungan karena kita bisa tempatkan titik airnya diatas dan over flow ke bawah secara grafitasi”

” Idialnya Kita bisa kelola pertanian-peternakan dan pertanian secara terpadu tanpa limbah karena sudah terurai dalam proses produksi”

“Kita hanya butuh dua orang pekerja untuk mengelola lahan seluas dua hektar kecuali dalam hal penanaman dan panen baru ada, penambahan tenaga kerja”.

” Ini sudah ada contoh tetapi lahan tetangga belum bisa digarap karena berbagai alasan.
Ada dua kendala. Pertama, Pemilik lahannya itu generasi tua yang lebih bamyak merantau sehingga lahannya diserahkan kepada petani penggarap sehingga tidak ada keputusan untuk merubah pola pertanian yang ada.

Kedua, kendala pertanian itu ada pada generasi penerus untuk merubah lahan kritis menjadi lahan produktif. Bapak ibu saya itu petani tetapi dari dulu saya tidak menjadi petani. Saya baru memutuskan terjun dibidang pertanian tiga tahun lalu karena saya memiliki obsesi untuk memanfaatkan lahan yang ada karena jarak lahan kita dari pusat kota Sukoharjo hanya 3 km masih tergolong kritis dan kurang produktif” (boni atolan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *