Dari Kaji Banding Komisi 2 DPRD Malaka di Jateng : Terinspirasi Konsep Berpikir Pak Jokowi – Kelompok Tani Ngudi Rejeki di Sukoharjo Berhasil Wujudkan Mimpi Pertanian Terintegrasi

Sukoharjo – Jateng — Ada kemauan pasti ada jalan. Berangkat dari kesuliran air irigasi untuk mengairi lahan pertanian, Kelompok Tani Ngudi Rejeki di Desa Jagan – Kecamatan Bendosari – Kabupaten Sukoharjo – Propinsi Jawa Tengah berhasil mewujudkan impiannya dengan mewujudkan pola pertanian terintegrasi.

Lahan kritis seluas 2.hektar yang sebelumnya dimanfaatkan untuk tanaman jati diolah menjadi lahan pertanian produktif yang terintegrasi dibidang pertanian, peternakan dan perikanan.

Dibidang pertanian kelompok tani Ngudih Rejeki selama dua tahun terakhir melakukan panen padi sebanyak sembilan kali dengan hasil panen 10-11 ton per ha/musim panen, belum termasuk hasil panen bawang merah organik, dan sayuran organik yang dibudidaya secara hidroponik

Dibidang Perikanan dan Peternakan kelompok ini setiap tahun panen ikan lele, ayam dan sapi yang dipelihara.

Semua usaha itu dilakukan pada lahan seluas dua hektar dengan modal utamanya satu buah sumur bor dan listrik senilai Rp 35 Juta.

Demikian penjelasan Ketua Kelompok Tani Ngudi Rejeki, Heri Sunarto kepada rombongan kaji banding Komisi 2 DPRD Kabupaten Malaka di Sukoharjo – Jawa Tengah belum lama ini.

Heri Sunarto yang juga masuk dalam petani milenial itu kepada rombongan dewan menjelaskan bahwa usaha yang dilakukan bersama kelompoknya terinspirasi dengan konsep Pak Jokowi yang ingin membuat waduk atau embung sebanyak-banyaknya guna dimanfaatkan dalam berbagai usaha produktif.

Heri menceriterakam dari titik itu filosofi integrated farming dibangun dengan konsep sesederhana mungkin sehingga bisa ditiru petani yang tertarik berusaha dibidang pertanian, peternakan dan perikananan.

” Kita tidak memiliki air yang cukup maka konsepnya kita ambil air dari bawah kemudian ditampung di kolam-kolam penampung baru dimanfaatkan dalam usaha pertanian terpadu”

“Kita akali dengan membuat waduk lokal berupa kolam bulat dari turbolin yang paling murah. Disitulah air kita tampung.
Semuanya bisa dilakukan dengan Filosofinya sejauh dibawah tanah ini masih ada air maka semua hal bisa dilakukan baik untuk mengairi lahan terasering atau datar bisa dilakukan dan diubah.
Konsepnya kita minimalkan mekanik. Kita hanya punya satu alat mekanik yakni pompa air dan selebihnya menggunakan grafitasi.”

Heri menjelaskan bahwa lahan diwilayahnya terdiri dari blok-blok dan setiap bloknya ada lahan seluas 200 ha yang hanya ditanam satu kali dalam satu tahun.

” Selama satu tahun mulai akhir bulan Maret hingga akhir bulan November tidak bisa dilakukan kegiatan penanaman apapun karena daerah ini dilanda kekeringan karena tidak ada air irigasi”

” Awalnya kita tidak ada air dan kita lakukan pengeboran air pada lokasi yang kritis ini dan kita bangun penanaman terintegrasi.
Dari kegiatan itu kita lakukan panen selama empat kali dalam setahun. Bahkan Selama dua tahun terakhir kita lakukan panen sebanyak sembilan kali”.

“Semuanya bisa dilakukan dengan Filosofinya sejauh dibawah tanah ini masih ada air maka semua hal bisa dilakukan baik lahan terasering atau datar bisa dilakukan dan diubah”.

“Titik sumurnya hanya satu untuk mengelola lahan dua hektar. Pengeboran untuk daerah kita kedalamannya 60-100 meter. Kedalaman bor kita 80 meter. Casingnya 4 ince jangan kurang dari 4 ince . Kata kuncinya sepanjang dibawah kita berdiri ada air tanah maka lahan bisa dirubah”.

“Kita gunakan pompa 3 PK kemudian kita pasang aliran listrik 3500 watt. Investasi pengeboran dan listrik Rp 35 Juta”.

“Dari sini kita mulai kegiatan. Mekanisasinya dimulai dari pompa mersidepam yang ditanam pada kedalamam 20 meter dimasukkan dan titik keluarnya pipa 2 ince.
Ada dua opsi. Satunya naik ke tampungan atas dan untuk kebutuhan 2 hektar membutuhkan enam kubik tampungan air. Opsi kedua, pada musim kemarau ada yang jalurnya direct dimana pipanya langsung ke kolam-kolam penampung yang sudah disiapkan dibawah”.

“Dari titik ini filosofi integrated farming kita bangun dengan konsep sesederhana mungkin sehingga bisa ditiru petani yang tertarik berusaha dibidang pertanian, peternakan dan perikananan. Konsepnya, kita ambil air dari bawah kemudian ditampung di kolam-kolam penampung baik yang disiapkan diatas dan dibawah”

“Pada intinya kita tertarik dan terinspieasi dengan konsep Pak Jokowi yang ingin membuat waduk atau embung sebanyak-banyaknya.
Kita akali dengan membuat waduk lokal berupa kolam bulat dari turbolin yang paling murah. Disitulah air kita tampung.
Kemudian kenapa airnya tidak langsung ke lahan persawahan seperti yang biasa dilakukan petani karena kalau langsung kita punya kendala di covering areanya sangat terbatas”.

“Satu titik kita uji sebelumnya hanya dapat mengcover 5000 meter persegi. Tetapi jika dengan konsep tampungan air kita dapat tingkatkan menjadi empat kalinya yakni 2 hektar. Satu titik pompa dengan kapasitas yang sama”.

Dari sumur bor masuk ke kolam penampung. Disini kita memulai pekerjaan perikanan. Dari pada airnya tidak dimanfaatkan maka kita aplikasikan ilmu perikanan yang sekarang cukup maju dan budidaya ikan yang paling cocok itu ikan lele”.

“Dari kolam itu hasil sampingannya adalah airnya sendiri untuk pertanian tercukupi disisi lain ilmu baru yang didapatkan dengan teknologi perikanan dengan menambahkan mikroba pengurai dalam kolam. Secara tidak langsung kita sudah membuat fertiliser pupuk organik cair dengan energi gratis. Energinya dari mikroba pengurai tadi kemudian mekanisasinya adalah gerakannya ikan sehingga dari situ secara tidak langsung kita memiliki pabrik yang bekerja 24 jam secara kontinyu tanpa kita keluarkan biaya dengan konsep menambahkan mikroba pengurai pada kolam kita”.

“Dari konsep itu kita dapat dua keuntungan. Keuntungan Pertama, kita dapatkan air yang nilai kualitasnya lebih baik dari air yang datang dari alam. Disitu tidak ada bakteri patogen karena sudah terurai mikroba yang dicampurkan di kolam”.

“Keuntungan kedua, kita dapatkan air yang berkecukupan khususnya pada saat pengolahan awal. Dari pengalaman kita kalau airnya langsung ke lahan maka kita hanya mampu mengolah 5000 meter per segi dan habis . Kalau kita memiliki bak penampung maka saat start awal pengolahan lahan bisa meningkatkan covering area 4 kali lipat yakni 2 ha” .

Dari kolam ikan over flow dari limbahnya masuk ke Mina Padi.

“Mina padi itu air dari Sumur .
Opsi pertama bisa ke bak penampung diatas untuk 2 ha butuh enam kubik.
Opsi kedua bisa langsung masuk ke kolam. Dengan ilmu perikanan kita tambahkan mikroba pengurai. Filosofinya air itu bergerak masuk ke kolam fungsinya untuk menyehatkan ikan dan kolam”.

“Yang keluar over flownya (kotoran bawah) keluar dari pembuangan dibawah secara otomatis ke kolam bergerak secara otomatis.
Air dari bawah masuk ke kolam penampung mina padi. Air over flow dari kolam tadi masih ada kandungan sisa pakan. Kotoran yang sudah terurai mikroba itu dimakan ikan sehingga ikannya tidak perlu lagi diberi makan”.

“Kita punya pupuk organik cair dari sisa limbah kolam bisa dimanfaatkan untuk budidaya bawang merah melalui teknlogi penanaman aquaponik. Modal kita hanya aqua gelas yang tidak terpakai dan ada semacam sumbu dari kain fanel sebagai media untuk makannya bawang tanpa disiram dan dipupuk. Satu rumpun bawang bisa delapan siung bawang tanpa kita siram dan pupuk”.

” Pertama, Media aqua ponik itu bisa digunakan beberapa kali. Pupuknya dari air sehingga tidak perlu dipupuk.

Kedua, Ada hidroponik untuk tanam sayuran. Dari air dengan pompa kecil kita naikkan melalui paralon kecil ada hidroponik berupa sayuran. Akarnya sebagai filtering air yang keluar dari situ masuk kembali ke kolam dan airnya sudah jernih.

Ketiga, over flow dari air itu baru masuk ke lahan pertanian sawah. Lahan pertanian tanpa pupuk. Kecuali, Pada musim kemarau Kita tambahkan urea 25 kg/ha untuk merangsang pertumbuhan karena panas sekali sehingga penyerapan kebawah lebih cepat”.

“Ini hasilnya. Kualitas padi Pandan Wangi. Biasanya satu rumpun padi tanpa teknologi ini biasanya di daerah kita dalam satu rumpun hanya bisa mencapai 15-20. Dengan konsep pemanfaatn limbah ini kita bisa mendapatkan 30-35 rumpun”.

“Dari kolam lele masuk ke mina padi kita manfaatkan aquaponik, hidroponik lalu kita manfaatkan ke lahan padi.
Limbah dari ini semua dimanfaatkan dan tidak terbuang. Termasuk ikan yang dibawah tidak perlu diberi makan karena pakannya tercukupi dari limbah yang ada”.

“Masuk ke lahan pertanian padi.
Kita sudah olah lahan ini selama 3. Dalam dua tahun terakhir kita panen 11 kali”

” Pada musim kemarau kita harus hati-hati karena resikonya ambruk karena terlalu berat padinya.
Hasil panen padi pandan wangi 10-11 ton /musim panen /ha. Kalau padi jenis lain hasilnya lebih.
Kita tanam Pandan wangi dengan organik banyak diminati orang /pembeli karena enak dan wangi”.

“Dari sini kita ada limbah pertanian padi berupa jerami tidak dibuang atau dibakar sebagaimana kebiasaan disini .
Limbah padi yang ada dikumpulkan dan masih dalam kondisi belum dikeringkan lalu difermentasi masuk ke gudang peternakan sapi. Idialnya peternakan sapi harus dekat dengan lokasi mina padi dan peternakan ikan. Dalam lingkungan ini ada perikanan, peternakan dan pertanian”.

“Dari limbah ini yang sudah difermentasi itu bisa jadi makanan sapi dan kotoran sapinya difermentasi untuk masuk lagi ke lahan pertanian.
Konsepnya kita minimalkan mekanik. Kita hanya punya satu alat mekanik yakni pompa air dan selebihnya menggunakan grafitasi”.
” Lele tidak perlu diari dan bisa didesign sehingga outo dan tidak perlu dibersihkan karena sudah bersih dengan sendirinya dari aliran air yang masuk. Sisa pakan dan sisa pupuk organik yang keluar sudah didesign keluar dari bawah menuju kolam.
Kita tidak perlu irigasi teknis lagi tetapi over flow. Konsepnya, ini adalah pabrik fertiliser pupuk organik cair”.

“Kolam lele biasanya berbau tetapi dengan konsep ini airnya tidak berbau.
Dengan kolam lele diameter 2 x 3 meter kita bisa pelihara lele 3000-5000 ekor”.

“Air untuk lele ada yang warna merah, kecoklatan dan ini ilmunya orang perikanan. Bakteri yang berkembang semuanya bagus dan positif untuk mina padi baik green water system, bio flog dan red water systim. Yang terbaik untuk budidaya lele dan pertanian itu bio flog dan berwarna coklat dan sedikit berbau. Penanganannya memang lebih ekstra”.

Tanaman Hidroponik / Slada Air

“Dari lokasi yang sama kita,
memanfaatkan air dari kolam lele yang disedot masuk lewat paralon tanpa kimia dengan memanfaatkan air kolam lele”.

“Modal kita hanya pompa air dan ini konsumsi perkotaan. Umur tanaman 35-40 hari panen. Kita tidak pelihara khusus karena modal kita hanya mesin pompa air”.

“Integrated farming kita mulai dari titik air. Pertanyaannya kenapa harus ada peternakan ayam. Sesuai prosedur dari perikanan dan peternakan harus ada bio security.
Sebetulnya tidak perlu pagar permanen.
Lahan ini dulu dibeli untuk peternakan ayam petelur ayam negeri. Tetapi dalam perkembangannya kita buat inovasi dengan mensulapnya menjadi lahan produktif”.

“Ada konsep kandang ayam karena konsepnya orang sipil bila ditambahkan kandang ayam itu supaya pagar yang ada tidak rawan ambruk dengan konstruksi kandang ayam yang dibuat menjadi struktur kremona”.

“Ada kolam lele dibawah ini supaya kandamg ayam dan tembok pembatas tanah tidak mudah ambruk dan fondasinya kuat”

“Lahan 5 meter dari batas tanah milik orang lain biasanya kurang produktif dan tidak terolah dengan baik karena sinar terbatas dan banyak dedaunan yang berjatuhan ke lahan produksi sehingga untuk mengakalinya supaya produktif dibuatkan peternakan ayam dan kolam penampung dan mina padi sehingga ayam tersebut kotorannya menggantikan pupuk urea karena kandungan N tinggi”.

” Dalam konsep peternakan ayam ini tidak ada kotoran ayam yang masuk ke kolam. Kandang ayamnya kita design seperti hidup diatas tanah dan kotorannya dikeluarkan untuk diolah menjadi pupuk” .

“Peternakan ayam ini bukan syarat mutlak untuk bangun pertanian terintegrasi nqmun wajib kita lakukan itu peternakan sapi”.

” Air yang ada kita maksimalkan untuk naikkan ke ketinggian sehingga secara gratifikasi bisa melalui rembesan dan jalur pipa sehingga bisa mudah melakukan pengairan”.

” Ini kolam tertutup tetapi lele dan ayam tetap hidup sehat dan tidak berbau. Kotoran ayam tidak masuk ke kolam. Ada peternakan ayam, lele , mina padi baru pertanian sawah.
Semuanya dilakukan secara on side baik pertanian, peternakan, perikanan” . (boni atolan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *