Dansatgas Pamtas Eban: Secangkir Kopi Bersama Dansatgas Pamtas RI-RDTL di Eban -TTU, Sabtu (8/6-2019) – “Satgas Pamtas Bisa Bersinergi Dengan Pemerintah Pacu Pembangunan di Kawasan Perbatasan”

TTU – TNI yang bertugas di kawasan perbatasan negara RI-RDTL bukan hanya menjaga kedaulatan negara di kawasan perbatasan tetapi juga melakukan Pembinaan Teritorial bagi masyarakat melalui berbagai program yang dirancang selaras dengan kebutuhan masyarakat.

Sesungguhnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi persoalan dan kebutuhan masyarakat di perbatasan. Dari pengamatan di lapangan, kebutuhan dan persoalan yang dihadapi di wilayah perbatasan adalah pangan dan perumahan layak huni bagi masyarakat.

Sesunggunya Satgas Pamtas bisa berbuat dalam skala yang lebih luas bila ada sinergitas program antara pemerintah daerah, Satgas Pamtas dan berbagai stake holder yang ada di perbatasan.

Mengutip pernyataan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat supaya bisa maju maka harus berpikir “out of the box” dan harus berani keluar dari zona nyamannya dengan membuat gebrakan yang luar biasa melalui program yang menyentuh kebutuhan dasar rakyat di kawasan perbatasan.

Demikian pemikiran kritis
Dansatgas Pamtas RI – RDTL Sektor Barat, Mayor Inf Hendra Saputra,S.Sos,. M.M,. M.I.Pol. dalam diskusi lepas bersama wartawan Malaka di Eban -Kabupaten TTU, Sabtu (8/6-2019) yang disajikan dengan gaya bertutur.

” Pengalaman di Poso waktu saya masih pangkat Letnan satu, saat pasca kerusuhan Poso turun anggaran dari pusat sebesar Rp 15 Milyar untuk program pembangunan 1039 unit perumahan RTS dengan indexs pembangunan per unit rumah Rp 15 juta” .

“Dana itu sebenarnya tidak besar tetapi dengan adanya kolaborasi antara TNI dengan pemerintah daerah serta berbagai stake holder maka programnya sukses dan semua rumah selesai dibangun”.

“Sebenarnya TNI di Perbatasan bisa selaraskan program seperti itu untuk mengerjakan kebutuhan warga perbatasan sejauh ada political will dan komitmen bersama untuk melibatkan TNI dalam melaksanakan berbagai program yang dibutuhkan warga di perbatasan.
Pemerintah yang siapkan anggarannya, Yang menjadi supervisi dan menggerakkan satgas serta institusi lainnya untuk bersama membangun”.

” Misi saya saat bertugas di Sektor Barat apa yang kami lakukan saat ini hanya untuk membuka mata hati semuanya untuk bisa menggandeng TNI untuk bisa bersama-sama membangun di kawasan perbatasan negara”.

“Sebetulnya Satgas bisa berkolaborasi dengan pemerintah untuk mengerjakan berbagai kebutuhan bagi warga perbatasan”.

“Masyarakat di perbatasan ini kebutuhannya ada dua yakni ketercukupan makanan dan perumahan layak huni.
Dana sebetulnya banyak namun perlu ada political wil untuk bersinergi dan bersama membangun”.

“Dalam lima tahun kalau tiap bulan bisa bangun 10 unit rumah saja maka masyarakat perbatasan akan sejahtera karena dalam lima tahun memiliki rumah layak huni”.

“Kedua saya lihat masih lemahnya dinas terkait dalam mengeksekusi program, sehingga apa dan berbuat apa dilapangan tidak sesuai dgn hasilnya”.

“Ternak babi misalnya bisa mendapatkan hasil yang cepat tetapi kenyataannya
hanya dibagikan ke keluarga tanpa memikirkan masuk dalam skala produksi peternakkan.
Sama juga perikanan tambak lele dan ayam. Rakyat perbatasan hanya taunya piara dan jual satu dua ekor bila butuh.
Harus dilakukan dalam skala usaha dibawah bimbingan pemerintah dan TNI di Perbatasan” .

“Dalam konteks ini pemimpin harus berpikir out of the box dan keluar dari zona nyamannya dengan membuat gebrakan yang luar biasa melalui program yang menyentuh kebutuhan dasar rakyat”.

“Masyarakat perbatasan saat ini berpikir dalam zona nyaman yang penting bisa makan hari ini dan besok. Harusnya dibawah bimbingan pemerintah dan pendampingan TNI warga di perbatasan bisa diajarkan bagaimana melakukan ternak ayam dalam skala yang lebih besar untuk bisa sekolahkan anak dan penataan masa depan yang lebih baik”.

“Menarik sekali pendapat Gubernur NTT mengatakan kita harus bisa ubah mainset dan pola pikir masyarakat.
[9/6 18.53] Dansatgas Pamtas Eban: Harus membuat sesuatu hal diluar ekspektasi kita. Jangan hanya kerja untuk makan hari ini dan besok tetapi harus berpikir bagaimana bisa hidup lebih baik melalui usaha yang permanen dan terencana”

“Contonya di Bijae Pesu, warga disana Ada penghasil Dan produksi garam. Membuat garam mentah menjadi garam jadi. Garam mentah keuntungannya dalam satu minggu hanya mendapatkan hasil Rp 240 ribu/minggu. Tetapi setelah diajari anggota untuk memproduksi dengan kelapa diolah dan dijual sebagai pengganti Yodium bisa menghasilkan Rp 800 ribu/minggu. Ini hanya soal pendampingan saja. Kalau dibimbing terus maka petani garam itu bisa berhasil meraup hasil yang banyak dalam satu bulan dari usaha memproduksi garam”.

“Itu baru satu orang kalau dalam satu desa didampingi tentu pendapatan perkapita di desa itu bisa meningkat.
Harusnya rakyat dibimbing dan diajari agar dana yang diintervensi bermanfaat dan meningkatkan penghasilan keluarga secara permanen”

“Saya sudah buat contoh kecil di masyarakat dengan dana yang serba terbatas bisa membantu masyarakat . Tinggal pemerintah dengan kewenangan anggaran yang lebih besar bisa berbuat banyak untuk percepatan kemakmuran rakyat di kawasan perbatasan negara” (boni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *