Catatan Kunjungan Para Pastor di Tambak Garam Weseben – Weoe – Malaka (bagian 2 ) – PT. IDK Justru Butuh dan Tanam Mangrov

Malaka – Isu pengrusakan dan pembabatan mangrov yang dilansir luas media sosial dan media massa yang belakangan marak, memfonis Perusahaan Tambak Garam Industri yang beroperasi di Kabupaten Malaka, PT IDK sebagai pembabat dan pengrusak tanaman mangrov dibantah dan dijelaskan tuntas Kepala Cabang PT IDK Kabupaten Malaka, Natalia Seuk.

Dihadapan para pastor se dekenat Malaka yang berkunjung di lokasi tambak garam Natalia menjelaskan bahwa selama beroperasi di Kabupaten Malaka PT IDK tidak merusak tanaman atau habitat mangrov tetapi justru perusahaan membutuhkan dan menanam mangrov.

Penjelasan itu disampaikan Natalia saat menjawab pertanyaan Deken Malaka, Rm. Edmundus Sako, Pr yang mempertanyakan pemberitaan media terkait pengrusakan habitat mangrov yang dilakukan PT IDK saat beroperasi di Kabupaten Malaka.

Natalia menjelaskan bahwa selama beroperasi di Malaka perusahaannya tidak merusak atau membabat tanaman/habitat mangrov.

“Kalau memang ada orang yang mengatakan perusahaan merusak dan membabat tanaman mangrov silahkan tunjukkan dan buktikan di lokasi mana tanaman mangrov itu dirusak”

“Itu hanya pernyataan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang memang tujuannya hanya mau menghambat pelaksanaan investasi garam di Kabupaten Malaka”

“Itu berita hoax yang tidak bisa dipertanggungjawabkan karena memang fakta dilapangan tidak sesuai apa yang diberitakan”

“Bagaimana Perusahaan merusak tanaman mangrov sementara perusahaan sendiri juga membutuhkan tanaman mangrov”

“Yang namanya perusahaan itu kerjanya harus sesuai aturan sehingga tidak bermasalah. Kalau investasi itu bermasalah tentu perusahaan akan merugi sehingga hal-hal yang merugikan dan berpotensi menciptakan masalah pasti dihindari perusahaan. Ini sudah jadi komitmen PT IDK saat memutuskan berinvestasi di Malaka”

Natalia menjelaskan selama perusahaannya melakukan survey lokasi di Kecamatan Wewiku dan Malaka Barat tidak ditemukan habitat mangrov yang dilarang pemerintah itu.

“Kami memang ditugaskan management untuk mencari tanaman mangrov untuk kepentingan penelitian di laboratorium tetapi di Wilayah Kecamatan Malaka Barat dan Wewiku tananam jenis mangrov itu tidak ada. Justru yang ada itu yang buahnya panjang sebagai bahan pewarna batik”

“Sementara jenis mangrov untuk memproduksi bahan makan itu buahnya bulat tidak ada di lokasi Kecamatan Wewiku dan Malaka Barat. Justru jenis itu hanya ada di Cagar Alam Maubesi yang memang dilarang dan dilindungi pemerintah”

Kami sudah keliling di lokasi mulai Weseben-Weoe dan Badarai, Rabasa, Umatoos, Fafoe dan Motaain ternyata tidak ada tanaman mangrov yang dimaksudkan.

“Yang ada bukan lahan/habitat mangrov tetapi justru yang ada itu hanya lahan Penundaan Pemberian Ijin Baru (PPIB) yang memang dilarang pemerintah untuk kegiatan investasi”

“Jadi bagi mereka yang ribut tentang pembabatan mangrove kemungkinan karena tidak tahu lapangan, tidak mengetahui mangrove atau sengaja menyebarkan berita hoax untuk msksud-maksud tertentu”

“Perlu ditegaskan lagi disini bahwa lahan untuk investasi PT IDK diluar kawasan hutan sesuai Surat keterangan resmi pemerintah dan diluar kawasan PPIB sehingga tidak melanggar ketentuan untuk berinvestasi”
(boni/bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *