Catatan Kunjungan Para Pastor di Tambak Garam Weseben – Weoe – Malaka (bagian 1)

Malaka – Kunjungan Para Pastor Se Dekenat Malaka di lokasi tambak PT IDK di Weseben-Weoe – Kecamatan Wewiku belum lama ini diwarnai pertanyaan kritis  para pastor terkait berbagai isu yang selama ini berkembang di masyarakat dan yang dilansir media massa.

Dihadapan tokoh adat, pemuka agama, pemilik lahan dan management PT IDK, Deken Malaka, Rm Edmundus Sako, Pr menjelaskan tujuan kedatangan para pastor ke lokasi tambak garam untuk melihat dari dekat aktifitas dan apa yang sesungguhnya terjadi terkait usaha tambak garam yang sementara dikerjakan.

“Kami para pastor yang berkarya di Dekenat Malaka -Kabupaten Malaka datang kesini untuk melihat dan mendengar apa yang sesungguhnya terjadi terkait usaha tambak garam yang sementara dikerjakan”

“Deken dan seluruh pastor di dekenat Malaka sudah bertemu dan mendapat penjelasan dari Bupati Malaka namun kami tetap datang kesini untuk melihat langsung di lokasi dan mendengar dari para pemilik lahan, pekerja dan pihak perusahaan tentang apa yang sudah dilakukan, apa yang sedang dan akan dikerjakan kedepan”

“Bagaimanapun para pastor yang datang disini merupakan gembala umat yang nota bene menjadi sumber bertanya umat atau orang lain yang berada diluar Kabupaten Malaka sehingga harus tahu persis kondisi sesungguhnya yang terjadi agar bisa mewartakan apa yang dilihat dan didengar secara benar dan tidak menyesatkan banyak orang”

” Kami para Pastor tidak ada konflik kepentingan karena tugas kami mewartakan hal yang baik dan benar serta selalu membela kebenaran dan kebaikan, juga urusan umat adalah urusan dari diri dan tubuh kami sendiri sehingga kami perlu memastikan, bukan tidak percaya apa yang dijelaskan kepada kami oleh Pemda tapi begitulah mekanisme memihak kebenaran dan kebaikan tidak hanya dengar sepihak apalagi tidak pernah melihat dan mewartakan sesuatu yang salah atau bohong itu akan menunjukan kualitas diri kita”

“Banyak hal yang dipertanyakan para pastor terkait keberadaan PT IDK di Malaka mulai dari proses perijinan, Sosialisasi kegiatan, progres pekerjaan di lapangan, kepemilikan lahan, isu pengrusakan mangrov, para pekerja dan pengasilan para pekerja, sistim investasi yang dibangun termasuk jangka waktu investasi serta berbagai isu lainnya” (boni/bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *