Bupati Malaka Minta Paslon dan Tim Kerja Jadikan Momentum Pilkada Sarana Pencerdasan Rakyat

Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran meminta kepada semua pasangan Calon Bupati/Wakil Bupati yang bertarung dalam perhelatan pilkada Malaka tahun ini agar menjadikan momentum pilkada sebagai sarana pencerdasan rakyat.

Setiap Paslon dan tim kerja harus memiliki niat baik untuk mensosialisasikan diri dan program kerja untuk masa depan masyarakat Kabupaten Malaka 5 tahun kedepan.

Tidak usah saling mencederai karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tidak usah ancam-mengancam. Jangan meracuni rakyat dengan janji-janji yang sebenarnya bukan tupoksinya bupati dan wakil bupati.

Kalau belum paham belajar lagi karena tugasnya Bupati/Wakil.Bupati itu adalah urusan pemerintahan, Pembangunan dan kemasyarakatan.

Hal itu disampaikan Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran kepada wartawan di kediaman Haitimuk – Malaka – Provinsi NTT, Kamis (3/9-2020).

” Sebagai Bupati saya menghimbau agar semua Paslon dan tim kerja memanfaatkan momentum pilkada ini untuk menawarkan program-program apa yang mau dilakukan kalau terpilih. Bukan ancam-ancam dan menjelek-jelekkan orang sebab tidak ada yang sempurna. Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Pada saat kita mensosialiasasikan diri dan mensosialisasikan program, saat itulah juga kita mencerminkan kadar intelektual dan kadar peradaban kita”.

” Jadi dihimbau kepada semua pasangan calon, tim sukses dari pasangan mana saja termasuk pasangan SBS-WT dan juga tim sukses SBS-WT untuk tidak boleh saling mencederai karena ini eranya bukan untuk saling mencederai, tapi eranya itu untuk menawarkan program-program , menawarkan rencana-rencana untuk kepentingan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat di daerah ini”

” Inilah kesempatan bagi kita untuk mencetuskan ide-ide dan gagasan, pada saat mengemukakan permintaan-permintaan kita kepada konstituen supaya mereka memilih kita harus dengan cara-cara yang mencerminkan bahwa kita berpendidikan tinggi, bahwa kita berbudaya, bahwa kita adalah cerminan seorang bupati, style seorang bupati, style seorang wakil bupati, style seorang pemimpin di daerah ini, style seorang pemimpin yang bahu-membahu untuk
urus negara republik Indonesia”

” Dalam pilkada serentak kali ini ada 270 putra-putri indonesia terbaik yang bertarung untuk mengambil hati rakyat supaya menjadi kepala daerah di daerahnya masing-masing dan bahu-membahu dengan sesama kepala daerah yang lain untuk urus indonesia ini”.

” Jadi urusan kita itu adalah urusan Republik Indonesia.
Oleh karena itu tidak usah mencederai, tidak usah menfitnah, tidak usah menjelekkan orang lain. Tunjukkan kedewasaan dengan menawarkan program-program terbaik untuk rakyat supaya rakyat bersimpati dan bisa memilih anda”

” Ini saya nasehat saya sebagai Kepala Daerah karena pada saat kita lakukan sosialisasi diri, lakukan pembekalan kepada tim sukses itu menunjukkan pencerminan kualitas kadar intelektual kita dan pencerminan kualitas kadar peradaban kita, itu pesan saya”.

” Pesan saya untuk rakyat cermati dengan baik, pemimpin mana yang cocok untuk bisa memimpin daerah ini 5 tahun kedepan yaitu dengan melihat track recordnya. Apakah dia selama ini urus keluarga atau tidak, apakah selama ini ada perhatian di daerah ini atau tidak. Jangan sampai mau jadi pemimpin baru datang supaya mau jadi pemimpin padahal lingkaran kecil saja tidak diperhatikan, dan datang hanya untuk menjelek-jelekkan orang saja”

“Sebagai Bupati saya melihat rakyat kita sudah pintar. Rakyat kita ini sudah pintar untuk memilih siapakah bupati atau calon wakil bupati yang cocok untuk bisa memimpin daerah ini. Karena kita semua bersaudara”.

” Menurut pengarahan dari pimpinan-pimpinan partai pengusung SBS-WT, arahannya adalah kita semua bersaudara di dalam nama Tuhan Yang Maha Kuasa dan kita semua adalah sahabat karena kita semua berkompetisi untuk mengambil hati rakyat”.

” Jadi jaga baik-baik karena besok belum kiamat. Hari ini belum bisa besok masih bisa. Tapi hari ini menjadi sejarah bagi anda kalau hanya mencederai orang saja dan mencederainya tidak ada pengaruh karena hanya kata-katanya saja, itu sama dengan bohong. Jadi omong, menuding, menuduh itu tidak boleh tanpa alat bukti”.

“Saya sudah katakan bahwa menuding seseorang bahwa orang itu penjahat tanpa alat bukti tidak dilakukan oleh mereka yang berkompeten di bidang tugasnya itu adalah orang penjahat, biadap dan orang itu tidak berpendidikan”. (boni/ichal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *