Bila Bupati SBS Sentil Soal ” Martabat” Dalam Rekoleksi Kategorial Dekenat Malaka  Dengan Thema  Mewujudkan Ekonomi Yang Bermartabat.

Ketika Disodorkan Thema Rekoleksi Kategorial Tahun ini oleh Deken Malaka, Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran dengan gaya yang khas mengawali materi rekoleksinya dengan memberikan batasan dengan mengedepankan dua kata kunci yakni ekonomi dan bermartabat.

Dalam paparannya Bupati SBS memberikan batasan tentang arti ekonomi dan arti bermartabat . Ekonomi itu dapat dipahami sebagai aktivitas seseorang untuk mendapatkan sesuatu. Sementara itu Bermartabat, lakukan sesuatu untuk mendapatkan hasil yang bagus.

Dalam pemaparannya terimplisit bahwa untuk mencapai yang namanya ‘ bermartabat ‘ itu diperlukan perjuangan dan usaha dari berbagai komponen masyarakat sesuai bidang profesinya.

Dalam penjelasannya Bupati SBS mengatakan “Bermartabat’ dapat dilhat sesuai profesi yang digeluti dan harus terukur.

Dijelaskannya, bagi seorang imam, bermartabat itu karena pelayanan tidak diskriminasi, harus hidup kudus, dalam kehidupan sosial selalu berada ditengah umat dalam suka dan duka.

” DPP harus melayani tanpa pamrih tanpa digaji. Itu tugas kaum awam dan pekerjaannya hanya dibayar Tuhan,
Harus jadi contoh bagi kaum awam karena mereka pengurus gereja” .

” Sementara itu ASN kerja sesuai aturan dan tidak boleh sembarangan. Caranya, baca aturan, mendengar, melihat dan melaksanakan sesuai aturan yang sudah digariskan”

Dengan gaya berseloroh Bupati SBS mencontohkan kalau ASN mau makan, jangan makan milik orang lain karena itu racun.

” Orang bodoh itu urusan bupati karena Bupati harus memberikan pendidikan,pelatihan dan kursus-kursus supaya pintar”.

” Tetapi kalau orangnya bengkok itu berkaitan dengan urusan spiritual dan para pastor bisa ambil peran melakukan berbagai pembinaan, salah satunya melalui rekoleksi kategorial seperti hari ini”

” Misalnya korupsi , ada dua faktor yang dilihat. Pertama, internal itu hanya dalam hati. Itu urusan dengan Tuhan”

” Eksternal, kita buat aturan, pembukuan, bendahara, atasan supaya jangan curi. Tetapi kalau curi itu bukan urusan Bupati tetapi harusnya urusan spiritual.
Kalau mereka bengkok itu bukan salahnya Bupati . Anehnya kalau ASN itu bengkok malah yang disalahkan Bupati”.

” Dalam kesempatan ini saya minta kepada ASN supaya kerja sesuai aturan”.

“Saya lihat pegawai bengkok itu dari hal sederhana. Pekerjaan anak buah saja diambil alih pimpinan apalagi soal keuangan. Jadi sadar sudah”.

“Kuncinya kerja sesuai aturan dan jangan ambil hak orang lain”.

“Bagi pengusaha, harus bangun bisnis yang sehat artinya jual barang yang berkualitas dan tidak kadaluarsa. Kalau ada barang yang kadaluarsa malah salahkan lagi pemerintah padahal itu murni kesalahan pengusaha yang hanya memikirkan keuntungan”

“Kita punya rakyat naik motor di jalan raya merasa tidak bersalah walau dirinya melanggar aturan. Berbuat salah dibanyak orang dianggap bukan kesalahan. Ini yang harus diurus dan ditelusuri salahnya dimana”

“Kalau masih ada seperti ini maka konsep pembinaan yang harus dilihat dan ditinjau kembali” (boni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *