Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
HeadlineOlahraga

Berebut Kursi Ketum PSSI, Antara Cinta Sepakbola, Totalitas, dan Professionalitas

50
×

Berebut Kursi Ketum PSSI, Antara Cinta Sepakbola, Totalitas, dan Professionalitas

Sebarkan artikel ini

Bursa Caketum PSSI periode 2023-2027 memasuki babak krusial. Senin (16/1) malam, Ketua KP mengumumkan ada 5 (lima) Bakal Calon Ketua Umum PSSI yaitu La Nyalla Matalitti, Arief Putra Wicaksono, Doni Setiabudi, Erick Thohir, dan Fary Djemy Francis. Kelimanya akan terlebih dahulu di verifikasi berkas sebelum Penetapan resmi Calon Sementara dan Calon Tetap.

Sepakbola Indonesia berada dalam fase tidak mudah, sejak tragedi kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan 1 Oktober 2022. Putaran Liga 2 dan Liga 3 dihentikan, sementara Liga 1 diteruskan tanpa sistem degradasi. Marwah kompetisi telah hilang di sepakbola negeri ini, kompetisi sebagai kawah candradimuka Prestasi Klub dan Timnas, seakan menjadi barang dagangan politik sepakbola, yang dapat dengan mudahnya dihentikan dan ditepikan. Setali tiga uang dengan ‘kursi panas’ federasi tertinggi sepakbola (PSSI), Posisi Ketum sangat kental bermuatan politik, terutama terkait jejak karir selanjutnya Sang Ketua Umum. Sepakbola tidak dikelola dengan totalitas, hanya ‘batu loncatan’ Sang Ketum atau sekedar ‘alat barter politik dan pencitraan’ Ketum terpilih. Sepakbola di negeri kita tidak pernah dikelola seperti suatu industri yang berkesinambungan dan pengurus yang tidak hanya menunggangi Kursi Ketum PSSI untuk jabatan politik selanjutnya.

Duel Panas

Melihat dari Bursa Caketum, setidaknya ada 3 (tiga) Caketum yang berpotensi menjadi pemenang dalam KLB nanti. Erick Thohir, calon yang didukung pemerintah dan sebagian besar gerbong lama di tubuh PSSI menjadi calon terkuat, meski sebagian besar kalangan ragu apakah Erick akan fokus mengurus PSSI, mengingat saat ini beliau adalah Menteri BUMN kabinet Jokowi. Aturan rangkap jabatan yang belum jelas di negeri ini, membuat pejabat publik bisa bebas mendaftar dan terpilih di beberapa jabatan sebagai Ketua Eksekutif. Hal ini dilakukan Erick, berbekal pengalaman menjadi owner klub sepakbola Inter Milan, Erick mendapat restu istana untuk maju kontestasi pemilihan Ketum PSSI.

Calon kedua adalah La Nyalla. Mantan Ketum PSSI menjadi salah satu kandidat kuat, karena diyakini akan tampil berbeda dari yang sebelumnya. Ketua DPD RI ini menjanjikan platform perubahan tanpa gerbong lama, artinya yang dibawa dan yang akan menjadi kabinetnya adalah orang-orang baru dan reformis di sepakbola. La Nyalla bertarung dengan keyakinan menyelesaikan tugas yang belum terselesaikan.

Calon kuat terakhir adalah Fary Djemy Francis. Komisaris Utama ASABRI ini adalah orang bola sejati. Sepakbola adalah Cinta, mengurus sepakbola adalah soal kecintaan, totalitas, dan dedikasi. Fary, yang didukung oleh Klub Jakarta United, adalah owner dan pengurus Bintang Timur Atambua, membangun sepakbola dari Timur, dari daerah perbatasan. Perjuangan panjang dan track record Fary Francis, mendapatkan banyak apresiasi positif dan layak menjadikannya sebagai Ketum PSSI berikutnya.

Prestasi Fary Francis, bersama Akademi Garuda Nusantara Bersatu, juga mendapat apresiasi banyak kalangan terutama klub dan asprov, melalui turnamen usia muda terbaik di tahun 2022 lalu yaitu Nusantara Open. Boleh dibilang Fary merupakan kuda hitam dari timur, pilihan yang tak kalah menarik disamping Erick dan La Nyala.

Jejaknya di lapangan hijau terus terlihat sejak menjadi penjaga gawang Persedil dan Bank Suma, hingga Ketua Indonesia Football Forever (IFF), sebuah organisasi tempat berhimpunnya para Legend Timnas dan pemain yang pernah merasakan kerasnya kompetisi Galatama dan Perserikatan. Era kepemimpinan Edy Rahmayadi, lelaki berdarah Maluku ini pernah menduduki Ketua Sport dan Intelegent PSSI. 3 kali diirinya membawa Tim Pelajar Indonesia menjuarai event internasional (Gothia Cup). Tak dipungkiri, berkat seorang Fary Francis, Piala Danone dapat bergulir di region NTT (2018).

Dari ketiga calon kuat Ketum PSSI diatas, setidaknya publik sepakbola tentu ingin mendengar suatu gagasan dan blueprint sepakbola Indonesia yang komprehensif, mulai dari sistem pembinaan dan kompetisi, aspek fairplay, dan konsep timnas berprestasi. Hal ini yang harus dipertanyakan para voters selaku pemegang hak suara dalam KLB mendatang. Harapannya tentu adalah sepakbola yang lebih baik, transparan, berprestasi, dan berdaya saing. ( fw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *