Menu

Mode Gelap

Headline · 6 Mei 2022 23:05 WITA

ASDM Sebut Persetubuhan Anak Dibawah Umur di Kabupaten Malaka -NTT  Itu Perbuatan Biadab


					ASDM Sebut Persetubuhan Anak Dibawah Umur di Kabupaten Malaka -NTT  Itu Perbuatan Biadab Perbesar

Salah satu Senior dan Anggota Komunitas Alumni Seminari Dekenat Malaka  ( ASDM), Benyamin Mali menyebut kasus dugaan persetubuhan anak dibawah umur yang terjadi pada anak belia berumur 13 tahun di Kabupaten Malaka-Provinsi NTT termasuk perbuatan biadab, merusak kemanusian dan masa depan  korban .

Untuk itu, semua pihak termasuk Aparat Penegak Hukum ( APH) yang menangani kasus tersebut harus memberikan perhatian dan  memiliki komitmen untuk mengawal dan  mengusut tuntas kasus tersebut dengan memberikan hukuman seberat-beratnya  kepada pelaku tanpa kompromi.

Masyarakat Kabupaten Malaka dan lembaga-lembaga yang berkompeten harus mengawal proses hukum yang sementara digelar agar bisa tuntas sesuai harapan bersama.

Hal itu disampaikan Benyamin Mali  kepada wartawan, Jumat ( 6/5-2022).

Benyamin mengatakan perbuatan pelaku kekerasan terhadap anak dibawah umur di Kabupaten Malakaka itu dikategorikan perbuatan biadab  sehingga tidak boleh ada kompromi-kompromi hukum. ”  Perbuatannya itu BIADAB…merusak kemanusiaan KORBAN…merusak masa depan si korban…sehingga tidak boleh ada kompromi-kompromi yang meringankan pelaku”, ujarnya.

” Saya harus katakan bahwa perbuatan  para pelaku  secara tidak langsung MERUSAK DIRINYA sendiri…merendahkan martabatnya sendiri”.

” Perbuatan pelecehan seksual kepada anak dibawah umur di Kabupaten Malaka itu  menandakan  ada sesuatu yang tidak beres dalam diri pelaku”.

” Apa yang tidak beres? Yang tidak beres itu terkait dengan   hakikat MANUSIA dan KEMANUSIAAN ”

” Saya katakan hal tersebut terkait hakikat manusia  karena dua alasan.
Pertama,  Manusia itu sendiri makluk berAKAL-BUDI, ber-HATI-NURANI dan ber-PERASAAN. Oleh 3 kesanggupan / kemampuan psikologis ini, manusia itu BEDA DENGAN BINATANG yang  bertindak mengikuti diringan NALURInya sendiri.

Perbuatan pelecehan seksual itu  menandakan bahwa si pelaku lebih DIKUASAI DORONGAN PERASAAN NAFSU, tidak lagi oleh AKAL dan NURANInya.

Dominasi NAFSU itu menunjukkan anasir-anasir  KEBINATANGAN dalam dirinya, dan dengan demikian si pelaku merendahkan martabat kemanusiaannya yang LUHUR ke tingkat infra-human, jadi sama dengan  BINATANG.

Kedua, Kalau  si pelaku itu seorang TERDIDIK, perbuatannya itu malah menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai kemanusiaan yang didapatnya selama masa pendidikan TIDAK mendarah daging, padahal pendidikan itu adalah upaya menjadikan manusia SEMAKIN MANUSIAWI…..semakin hidup menurut nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan kata lain, pendidikan GAGAL memanusiakan dia, gagal membentuk dia menjadi manusia yang bertindak seturut pertimbabgan AKAL dan NURANI serta PERASAAN kemanusiaan yang ADIL dan BERADAB”, tutupnya. ( boni)

 

 

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 535 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Merajut Kebersamaan dan Solidarotas Kaum Muda Katolik Paroki Ngagel -Surabaya Patut Jadi Model

17 Mei 2022 - 00:09 WITA

Gegara Pecat Sejumlah PAC, Simpatisan Jeriko Pastikan Demo Lagi Di Muscab Demokrat

16 Mei 2022 - 22:37 WITA

Komisi I DPRD Kabupaten Malaka Desak Pemerintah Tindak Lanjuti Rekomendasi KASN Terkait Pelantikan Pejabat Eselon

16 Mei 2022 - 14:09 WITA

Hasil Cabor Panahan Sea Games Vietnam: Meski Pemanah Compund Perorangan Tumbang, Peluang Masih Tersisa Men dan Mixed Team.

16 Mei 2022 - 13:51 WITA

8 Ketua DPAC Demokrat Malaka Diganti Muka Baru Bukan Anggota Partai, Ada Apa?

16 Mei 2022 - 07:18 WITA

Kemelut Partai Demokrat di Kabupaten Malaka Harus Diselesaikan Secara Bijak

15 Mei 2022 - 23:45 WITA

Trending di Headline