Arti Penting Kunjungan Menkes RI di Kabupaten Malaka (Catatan Wartawan Boni Atolan)

Kunjungan Mentri Kesehatan RI, Nila Djuwita F. Moeloek untuk pencanangan Bulan Eliminasi Kaki Gajah Nasional yang dipusatkan di Kabupaten Malaka Provinsi Nusa Tenggara Timur belum lama ini meninggalkan sejumlah arti yang patut didiskusikan.

Diskursus tentang kunjungan itu terlihat biasa, layaknya kunjungan seremonial biasa tetapi dalam pandangan saya ada beberapa pemikiran menarik dibalik kunjungan itu.

Pertama, Penetapan lokasi kegiatan Belkaga di Kabupaten Malaka sebagai kegiatan nasional
merupakan langkah cerdas dan upaya konkrit Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran untuk menghadirkan kegiatan nasional itu di Kabupaten Malaka.
Sebagai mantan Kadis Kesehatan Propinsi NTT Bupati Stef tentu mengetahui persis pentingnya Mentri bersama jajarannya dari Pusat bersama Dinas Kesehatan Provinsi NTT hadir di Kabupaten Malaka.

Kedua, Kehadiran Ibu Menkes bersama seluruh jajarannya mulai dari Pusat hingga propinsi di Kabupaten Malaka bagi saya merupakan bagian dari sebuah upaya untuk mengenalkan dan mempromosikan Kabupaten Malaka yang nota bene sebagai kawasan perbatasan negara. Bupati Malaka dengan gayanya yang sangat khas menjelaskan tentang persoalan kesehatan di Kawasan perbatasan negara, apa yang harus dilakukan sehingga Malaka bisa jadi show windownya Indonesia di kawasan perbatasan negara dibidang kesehatan.

Dalam tataran ini Bupati SBS mematok grade dengan indikator rakyat Malaka tidak boleh berobat di negara tetangga tetapi rakyat negara tetanggalah yang harus berobat di Indonesia. Tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta, Surabaya dan Bali tetapi cukup datang saja di Malaka sebagai tetangga negara sebelah.

Ketiga, Sebagai salah seorang ahli Perencanaan Pembangunan Kesehatan di Indonesia, Bupati SBS ingin menunjukkan kepada Indonesia dan dunia bahwa untuk membangun dibidang kesehatan tidak harus dimulai dari Jakarta baru turun ke daerah seperti Malaka tetapi Indonesia bisa dikenal atau disegani dibidang kesehatan bisa dilakukan dari daerah. Sementara Jakarta sebagai pusat ibu kota negara hanya mendapatkan imbas dan harumnya ketika Malaka bisa menjadi sentral pelayanan terbaik dibidang kesehatan yang dapat mengharumkan nama Indonesia di Kawasan perbatasan negara.

Terlihat sekali Bupati SBS dalam sekapur sirihnya dihadapan Ibu Menkes dan sepuluh Bupati/Walikota yang menghadiri pembukaan Belkaga di Malaka sangat memahami maksud penyampaian Bupati SBS.

Berangkat dari pemikiran diatas Bupati Stef yang memiliki segudang pengalaman dan jejaring dibidang kesehatan ingin meyakinkan Pempus dan Pemprop NTT akan pentingnya pembangunan Kesehatan di Kawasan Perbatasan negara baik dibidang pembangunan infrastruktur kesehatan yang memadai dan SDM pendukung yang harus disiapkan.

Ide Pembangunan 20 Puskesmas yang bertaraf nasional di Kabupaten Malaka serta mengoptimalkan pemanfaatan RSUPP Betun merupakan konsep briliant seorang Bupati SBS untuk menata pembangunan dibidang kesehatatan di kawasan perbatasan negara.

Dibidang pembangunan SDM di bidang kesehatan Pemda Malaka dibawah kepemimpinan Bupati SBS setiap tahunnya mengalokasikan sejumlah anggaran untuk menyekolahkan tenaga dokter yang bertugas di Malaka dibidang specialis termasuk tenaga medis lainnya.

Bupati SBS melihat betapa pentingnya pelayanan kesehatan bagi masyarat Kabupaten Malaka dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki kompetensi dibidang itu. Bupati SBS tanpa ragu menempatkan tiga tenaga dokter pada setiap Puskesmas yang menyebar di Kabupaten Malaka untuk memberikan pelayanan dasar terbaik dengan gaji dua kali lipat jika dibandingkan dengan salary dokter di daerah lain di NTT dengan gaji per bulan Rp 15 Juta/dokter dan dokter ahli Rp 40 Juta perbulan diluar fasilitas lainnya.

Status RSUPP Betun yang dulunya tipe D naik menjadi tipe C dengan standart mutu pelayanan Paripurna dan Bintang Lima.

Hal ini menunjukan Kabupaten Malaka memiliki perhatian dan komitmen yang sangat besar terhadap pembangunan kesehatan di kawasan perbatasan negara. Tinggal saja bagaimana Pempus dan Pemprop NTT melihat upaya yang sudah dilakukan dan memberikan intervensi sesuai kewenangan yang dimiliki sehingga kelak Malaka bisa menjadi model dan contoh pembangunan kesehatan di Indonesia khususnya di kawasan perbatasan negara. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *