Anak-Anak Malaka Harus Banyak Belajar dan Mampu Melihat Peluang Pasar

Malaka – Generasi muda Malaka harus kreatif dan banyak belajar termasuk melihat peluang pasar. Pasalnya, sesungguhnya di Malaka banyak peluang yang bisa membuka lapangan kerja tetapi belum banyak orang yang mampu membaca dan memanfaatkan peluang yang tersedia.

Terkait pemasaran hasil pertanian ada segmen-segmen tertentu yang bisa diambil untuk memperoleh hasil seperti penanganan pasca panen.

Dinas teknis harus melihat peluang itu dan mengirim anak-anak Malaka untuk belajar langsung di lapangan terkait penangan pasca panen hasil pertanian masyarakat.

Hal itu disampaikan Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran disela acara Pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat(BBGRM) ke-16 dipadukan dengan Hari Kesatuan Gerakan PKK ke- 47 serta Gelar Theknologi Tepat Guna ke- 5 yang dirangkai dengan Bursa Pertukaran Inovasi Desa tahun 2019 yang dipusatkan di Desa Lamea Kacamatan Wewiku Kabupaten Malaka Privinsi NTT – Kamis (8/8/2019).

” Tadi kita lihat hasil panenan pisang diangkut ke Kupang dengan truk pengangkut hasil tetapi dengan cara ditumpuk dari bawah ke atas tanpa packing sehingga berpotensi banyak pisang yang rusak bila tiba di Kupang. Seandainya saja dipakcing yang bagus tentu hasil penjualannya bagus dan memberikan banyak keuntungan”

“Rakyat bisa dapat untung dari hasil jual pisang yang berkualitas dan juga keuntungan dari pembuatan packing itu sendiri. Itu harus peka dan ada keterampilan sehingga harus belajar dari daerah yang sudah maju penanganan pasca panennya supaya bisa dapat ilmu dan keterampilan”

” Kita punya banyak potensi dan hasil di Malaka. Kalau mau cepat maju kirim anak-anak untuk belajar Packing seperti packing pisang ,ikan , bawang, pepaya supaya saat kirim tidak cepat rusak ”

“Kalau kita packing secara baik maka kerusakan berkurang sehingga keuntungan yang diperoleh banyak karena tidak banyak komoditi yang rusak saat pengiriman”.

” Saya pernah datang ke Belgia. Disana kami bertemu dengan asosiasi petani kakao, pedagang coklat, peneliti coklat, pengolah coklat yang berdiri dalam satu wadah dan diantara mereka ada kerja sama yang baik untuk tetap mempertahankan mutu coklat”

“Dari penjelasan mereka bahwa kualitas coklat terbaik di dunia ada di Sikka – NTT. Lima komponen diatas tetap bekerja sama di Asosiasi dan mereka tetap membantu petani agar tetap menjaga mutu produksinya. Pelatihan bagi petani itu diambil dari hasil keuntungan coklat yang dijual yang dikelola asosiasi untuk memberikan pendidikan kepada petani”

“Kalau kita di indonesia atau khususnya di NTT kita belum berpikir kearah sana. Tragisnya, kita yang punya sapi dan kita yang pelihara. Ironisnya ketika sapi dijual kita juga tidak tahu kepada siapa barang itu dijual. Para pembelipun terkadang tidak tahu dari mana sapi itu berasal”

” Lebih aneh lagi, kita punya sapi dan kita yang piara tetapi saat dijual hasilnya tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh orang Jakarta saat menjual lagi sapi-sapi kita”

” Disini, semakin jauh ke hilir keuntungan mereka lebih besar tetapi anehnya mereka tidak mempedulikan lagi orang di hulu sebagai pemilik dan pemelihara sapi” (boni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *