Direktur Industri Kimia Hulu Kementrian Perindustrian RI, Ir. Fredy Juwono, MM Kunjungi Ladang Garam PT IDK di Malaka

Malaka- Direktur Industri Kimia Hulu Kementrian Perindustrian RI, Ir. Fredy Juwono, MM mengunjungi ladang garam PT IDK di Malaka.

Dalam lawatannya selama dua hari di Malaka selain bertemu pemerintah daerah juga melakukan pemantauan lapangan di ladang garam yang dikelola PT IDK untuk memastikan proses produksi garam PT IDK sesuai standart mutu produksi garam industri seperti harapan Presiden RI dan Gubernur NTT.

Hal itu disampaikan Fredy  Juono kepada wartawan di Betun, Kamis (31-10-2019).

Dikatakannya, kunjungan ke Malaka merupakan sebuah langkah konkrit dari kementrian perdagangan RI untuk memastikan proses produksi garam industri di Malaka berjalan sesuai rencana dan harapan bersama.

“Kami berharap garam dari NTT sesuai harapan gubernur dan Bapak Presiden yang datang berkunjung berkeinginan supaya garam di NTT masuk dalam kategori garam industri.
Ada beberapa tempat di NTT yang dijadikan centra produksi garam industri diharapkan bisa memberikan kontribusi untuk pemenuhan kebutuhan garam nasional”.

“Sampai sekarang kita masih import garam industri sangat besar dari luar negeri sebesar 2,7 Juta ton/tahun . Kami harapkan garam dari NTT bisa mengurangi garam impor. Berdasarkan hasil pengamatan kami di NTT memang memungkinkan untuk dikembangkan produksi garam industri. Jadi kami melihat pekerjaan dilapangan sudah sejauh mana dilaksanakan” .

Dijelaskannya, Garam industri proses produksinya tidak sama dengan proses produksi garam biasa karena harus melewati beberapa tahapan yang harus dilalui supaya bisa memenuhi standart kualitas produksi garam industri.

” Khususnya produksi garam industri tahap awalnya harus produksi dulu meja garam sebagai fondasi baru dilanjutkan dengan produksi kristal garam sehingga nantinya kita memanen garam diatas meja garam . Prosesnya memang agak lama karena harus melalui beberapa tahapan produksi”.

“Kita harapkan proses ijin lokasi PT IDK sudah bisa selesai untuk yang perluasannya. Sementara untuk pilot proyect 32 ha di Rabasa sementara berproduksi memasuki fase pembuatan meja garam dan 300 ha di Wewiku sementara dalam proses pengerjaan di lapangan dan diharapkan dalam tahun ini sudah bisa selesai untuk selanjutnya mulai diproduksi meja garam”

“Kemarin kita lihat di lapangan berbagai persiapan termasuk tata cara persiapan kolam penampungan dan kolam meja untuk kristalisasi sudah sesuai standart produksi garam industri”.

“PT IDK dalam mempersiapkan ladang garam yang ada menggunakan standart mutu produksi Internasional seperti di Spanyol”

“Dari pantauan kami di lapangan dengan penataan kolam yang dilakukan PT IDK sudah memenuhi standart produksi . Dari beberapa contoh yang kami lihat di beberapa negara sama dengan model lahan garam yang sementara dikerjakan PT IDK sehingga kami yakin produksi garam industri di Malaka bisa sesuai harapan dan bisa menjadi model produksi garam industri di Provinsi NTT”

“Untuk di Malaka sangat prospektif karena musim panasnya lebih panjang dan air lautnya cukup bagus. Dengan tata kelola air dan kolam-kolam efaporasi yang dibuat kami yakin target untuk produksi garam industri di Malaka dapat tercapai”.

“Target kita kualitas produksi. Kategori garam industri yakni garam yang kandungan NaCL 97 persen keatas. Kedua, Kandungan Impuritisnya Ca dan Mg diharapkan sekitar 600 ppn. Dengan tata kelola produksi garam diatas garam kita yakin bisa dicapai”

” Yang kita lihat selama ini prpses produksi garam menggunakan Geo Membran dan waktu panennya hanya 10-15 hari sehingga belum bisa menghasilkan garam industri yang bagus. Kita akan biarkan hingga ketebalan 30 cm baru diatasnya dipanen garam sehingga kualitasnya bagus”

“Kita tidak seperti di tempat lain baru 15 hari sudah panen. Itu belum masuk garam industri karena bentuk kristalnya belum cukup besar. Kalau garam industri bentuk kristalnya besar dan kandungan NaCL serta kadungan Impuritisnya dibawah parameter yang dipersyaratkan sebagai garam industri”

” Bila ijin lokasi  yang diberikan 2500 ha dan Per ha produksinya 100 ton berarti 250 ribu ton/tahun dan Malaka bisa memberikan kontribusi 10 persen dari total import garam nasional. Ini bisa jadi contoh bagus untuk produksi garam industri di daerah lain. Kita tunggu prosesnya karena penataan lahan sesuai standart dan pengaturan airnya melalui beberapa tahapan yang harus dilalui.

“Dalam panenan tergantung kadar produksi dengan ketebalan berapa kristalnya sesuai standart kualitas yang ditentukan. Kalau 10-15 hari dipanen itu kristalnya masih halus dan kandungan airnya terlalu tinggi sehingga saat pencucian bisa larut. Kalau panas dan anginnya bagus Agustus – Nopember satu kali panen itu bagus dengan kualitas produksi yang baik”.

“Kita harapkan apa yang sudah dilakukan saat ini bisa menjadi contoh di Malaka. Kita harapkan melalui pilot project ini bisa menjadi contoh untuk daerah lain di Malaka”.

“Kami berharap untuk investor yang melakukan hal ini bisa membangun industri hilir yang menggunakan bahan baku garam yang bisa menyerap banyak tenaga kerja di Malaka”.

Di NTT garam industri bisa dikembangkan di Nagekeo, Malaka, Kupang, TTS, TTU dan daerah lain di NTT. Ini sangat tergantung struktur tanahnya, cuaca,kandungan airnya bagus . Kita dorong investor besar untuk masuk di berbagai daerah yang berpotensi untuk pengembangan produksi garam industri”. (boni atolan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *